Kie Raiku...

My Photo

Tentang Aku

Nama saya Arya, saya tidak memiliki hubungan dengan Arya Penangsang, Arya Kamandanu, Arya Dwipangga atau juga Arya Wiguna. Lebih tepatnya, Arya hanya sebatas nama depanku yang keseluruhanya bernama Arya Iman Fatio

Social media

Benci Membenci, Emangnya Situ Siapa ?

https://twitter.com/guabenciteman


Sebagai seorang perokok dan juga seorang yang memiliki banyak mantan -meski tak sebanyak tengkulak mantan si Zaeni dan Playboy Melankolis si Phale- sudah sering sekali aku di benci oleh orang-orang sekitar, dari yang mengenal baik siapa aku sampai orang yang enggak kenal enggak apa tiba-tiba benci aja gitu. Kan coeg.

Siapa sih di dunia ini yang suka dibenci ? tentu rasanya hampir tidak ada bukan ?

Sebagai orang yang selaw, rasanya aku sudah terlalu dipusingkan dengan berbagai kebencian yang melanda lingkaran pertemanan saya baik di dunia nyata maupun dunia digital.

Dimana-mana serba semua salah Jokowi, semua salah Ahok, semua salah Anies, semua salah Prabowo. Pokoknya setiap hal yang kita benci itu patut menanggung kesalahan yang ada di dunia ini.

Benci itu mematikan nalar, seperti seorang yang membenci perokok hanya karena terbawa arus perang perdagangan nikotin antara perusahaan farmasi dengan perusahaan rokok. Benci rokok serampangan membencinya, pokoknya ada berita bahaya rokok walaupun itu hoax atau tidak ilmiahpun tetap saja di like, share, lalu masuk surga... halahh

Dan akhir-akhir ini kita juga digembar-gemborkan untuk membenci micin. Banyak orang menjadi paranoid dengan micin, masak tidak menggunakan micin, takut jadi bego katanya. Padahal takut bego lalu masak tidak menggunakan micin adalah tindakan yang bego juga.

Wong namanya micin sebagai penyedap masakan itu kita perlu itu, itu tidak bermasalah asalkan tidak berlebihan. Bahkan kandungan dalam micin sebenarnya dibutuhkan oleh kita.

Ada lagi yang benci Nasi, katanya nasi mengandung gula tinggi, akibatnya tidak makan nasi dan justru kekurangan zat gula. Yah benar nasi mengandung gula tinggi, tapikan emang tubuh kita butuh gula bukan ? makan saja nasi tidak masalah, kecuali memang kamu terkena penyakit gula. Aku yah kalau lagi batuk juga enggak merokok kok.

Seperti yang dituliskan Phutut EA kemarin di Mojok.co. Bahwa segala isu untuk membenci ini dan itu akan menumbangkan beberapa korperat dan menaikan korperat lainya. Jadi semua isu-isu itu jika kita perhatikan, muaranya adalah perang ekonomi.

Begitu juga dalam hal benci membenci politikus. Tak selamanya politikus yang menjabat di pemerintahan itu menguntungkan rakyat dalam kenijakanya, pun tak selamanya juga merugikan rakyat. Jadi berhentilah benci membenci politikus itu. Kalau oke yah kita dukung, kalau enggak oke yah kita kritisi, jangan cuma pejabatnya kurus atau pejabatnya pakai sepatu kets kita kritisi habis-habisan dan secara tidak langsung, kita menjadi boneka perdagangan global.

Lagipula diluar itu, sebenarnya dengan tidak membenci apapun dan siapapun, kita justru hidup lebih woles, lebih selaw dan dapat menjaga nalar, setidaknya menjaga nalar untuk belajar dari banyak hal agar tidak mudah berprasangka buruk. 

Tapi akupun sejatinya masih suka membenci sih, entah kenapa aku benci kepada orang yang suka membenci.. Huhh Paradoks bukan ? halhhh

Cara Setting Static Routing Mikrotik



Oke, setelah sekian lama aku enggak nulis-nulis tentang hal-hal yang berbau jaringan, maka kali ini aku kembali menulis tentang ini. Karena bagaimanapun, selain menjadi seorang Hati Support, aku juga seorang IT Support.

Oke kali ini aku akan kasih tau cara setting Static Routing di Mikrotik.

"halahhh... static routingmah gampang, di mikrotik pula" Begitu mungkin pendapat kalian yang berkecimpung di dunia jaringan.

Enggak masalah, lagian juga ini tulisan buat ada-ada aja. Biar tetap diakui sebagai orang IT aja hehehehe

Oke fokus...

Yang gampang-gampang aja yah, aku akan setting static routing dengan topologi yang ada pada gambar 0.1.

Gambar 0.1












Aku kasih keterangan yah, disitu terlihat masing-masing perangkat memiliki IP sebagai berikut..


  • PC1 memiliki IP 192.168.1.2
  • Dari PC1 menuju Router1 (Eth2) memiliki network 192.168.1.0/24 (Kita bisa asumsikan Router1 Eth2 memiliki IP 192.168.1.3)
  • Dari Router1 (Eth1) menuju Router2 (Eth2) memiliki network 10.10.10.0/24 (kita bisa asumsikan Router1 Eth1 memiliki IP 10.10.10.2 dan Router2 Eth2 memiliki IP 10.10.10.3)
  • Dari Router2 menuju PC2 memiliki network 192.168.2.0/24 (kita bisa asumsikan Router2 Eth1 memiliki IP 192.168.2.2)
  • PC2 memiliki IP 192.168.2.3

Yang namanya routing itu berarti mengarahkan, namanya mengarahkan itu kita harus tau mau mengarahkan Mau kemana dan Lewat mana. Jangan sampai nyasar dan ujung-ujungnya kembali pada mantan... ehhh

Pertama Masukan IP secara manual pada masing-masing perangkat.
Disini aku tidak akan membahas hal ini, aku anggap kalian udah bisalah cara masukin IP, kalau enggak nanti aku bikin tulisan yang lain.

Berikutnya, adalah Setting Pada Router
Pertama kita coba lihat Router1. Dari gambar diatas, kita bisa lihat, Router1 itu sudah tekoneksi pada dua network. Berarti dia perlu terkoneksi dengan satu network lagi, yaitu network 192.168.2.0.

Untuk tekoneksi dengan network tersebut, harus melewati Router2 melalui Eth3 yang memiliki IP 10.10.10.3.

Jadi cara settingya pada terminal begini :
Gambar 0.2


Atau jika menggunakan winbox seperti ini :
Gambar 0.3

Bagi yang menggunakan winbox, masuknya melalui menu IP -> Routes -> (lalu pilih tombol menambahkan) -> (masukan Dst Address dan Gateway seperti pada gambar 0.3)

Setelah itu kita setting Router2.
Cara settingnya juga sama, Router2 itu mau dikoneksikan ke network 192.168.1.0/24. Karena cuma network tersebut yang tidak bisa dihubungi Router2.

Untuk menuju network tersebut, maka harus melewati Eth1 pada Router1 yang memiliki IP 10.10.10.2.

Settinglah seperti saat setting Router1.....

Jadi intinya itu kita harus tau Mau kemana dan Lewat mana....

Oh iyah jangan lupa untuk PCnya diatur Gateway sesuai dengan IP Mikrotik yang tersambung ke PC.

Udah begitu ajadah.... Nanti yang lainya nyusul...

Pintar Perlu, Akhlak Harus



Saya punya beberapa teman yang sebenarnya enggak cerdas-cerdas amat bahkan terkesan bodoh untuk banyak hal. Tapi untuk urusan akhlak, mereka jauh di atas saya.

Akhlak disini maksud saya seperti bisa membawa diri di berbagai lingkungan, menyesuaikan diri dengan berbagai macam jenis manusia dan hal-hal yang sangat berguna dalam bermasyarakat.

Menurut saya, kemampuan sesorang memelihara akhlak yang baik di zaman ini sudah hampir mencapai titik langkah.

Banyak orang berlomba-lomba untuk paling cerdas, sekolah mahal-mahal sampai luar negeri, namun gagal dalam penerapanya di masyarakat adalah efek dari gagalnya masyarakat menjaga akhlak.

Dalam Islam sendiri, kanjeng Rasul sesungguhnya datang bukan untuk kemenangan umat Islam, bukan untuk membawa umat manusia ke surga, tetapi sebagai penyempurna akhlak manusia.

Bagi yang pernah mondok atau belajar di pesantren, mereka (para santri) sebelum belajar ilmu fiqih, nahwu, shorof hingga balaghoh dan ilmu lainya yang ada di pesantren, terlebih dahulu para santri harus melahap kitab Akhlakul lilbanin dan Ta'lim Muta'alim.

Loh kok aku bisa tau ? kan aku enggak pernah mondok ? Dapet info darimana ? Ngarang kali ?

Yee darimana lagi kalau bukan dari santri masa kini si Gus Zaeni yang mantanya banyak ituloh.

Isi kitab itu aku juga sebenarnya belum khatam juga, tapi aku lihat secara garis besarnya itu mengatur kita bagaimana berperilaku, adab, sopan-santun, intinya yang gitu-gitulah.

Lah kok aku tau lagi isi kitabnya ? ngarang lagi ini ? atau kata si tengkulak mantan lagi ?

Yaelah bro, jaman begini kitab-kitab begitu juga udah ada versi digitalnya keuleess... coba googling....

Oke lanjut...

Dari situ, kita tau sebenarnya pelajaran di dalam pesantren, dasarnya itu akhlak, adab.

Jadi, yang namanya santri itu. Diajarkan menjadi orang baik terlebih dahulu. Baru diajarkan menjadi orang pintar, Tapi bukan berarti santri tidak boleh pintar bukan ? Pintar perlu, tapi akhlak dan adab itu suatu keharusan.

Hal ini diperlukan ketika santri sudah terjun ke masyarakat. Santri tidak hanya memberitahu benar atau salah, Haram atau halal atau hal-hal perkara Bid'ah atau Sunnah. Tetapi santri juga melihat kondisi masyarakat yang dihadapi, melihat kultur yang ada di masyarakat.

Agama (apapun) bagiku isinya itu tentang ajaran kebaikan. Jadi akan enggak lucu jika diajarkan dengan mata melotot, marah-marah hingga mencap sesat sana-sini.

Yah aku paham, kadang orang-orang pintar memang mengatakan yang benar, ada dalilnya -Shoheh pula-. Namun kebenaran tersebut akan terlihat mengerikan, serem dan akan dipandang Tuhan itu menakutkan.

Tuhan memang maha penghukum, maha meminta pertanggungjawaban. Tapi bukankah Tuhan maha penyayang, maha pengasih, dan masih banyak sifat Tuhan yang membawakan keteduhan. Kalau kita bisa menjelaskan sifat-sifat baik Tuhan dengan akhlak yang baik, perlakuan yang mengayomi kan masyarakat juga bisa menerima kita dan apa yang akan kita sampaikan sedikit demi sedikit akan mereka ikuti.

Tapi emang dasarnya orang pintar itu pengenya instan. Merasa lebih tau, sehingga apa yang di fatwakanya wajib diikuti, jika tidak yah sesat.

Memang menjadi orang baik itu tidak se-superior orang pintar. Menjadi orang baik itu, walaupun pintar, tetap tidak akan dipandang, kepintaranya tak terlihat karena sifatnya yang begitu lembut.

Sedangkan menjadi orang pintar itu enak. Apa yang diucap dianggap kebenaran, tidak ada kompromi akan hal itu.

Tapi perlu di ingat, golongan orang-orang baik itu fokusnya itu membangun peradaban, bukan menciptakan orng-orang pintar. Karena dalam peradaban yang baik, akan tercipta orang-orang pintar. Sedangkan banyaknya orang pintar tidak dapat menjamin bisa membangun peradaban yang baik.

Tulisan ini bukan untuk menyindir siapapun, tapi ini refleksi untuk diri.

Pasalnya beberapa hari yang lalu aku sempat berbeda pandangan tentang rokok dengan beberapa guruku. Aku menggunakan dalil yang valid untuk mendukung argumenku, aku gunakan logika yang joss pokoknya untuk berargumen.

Beberapa orang menganggap aku dipihak yang benar, dengan argumen yang runtut. Tapi setelah aku pikir, secara adab itu bukanlah hal yang baik, apalagi diskusi perbedaan pandangan itu dialkukan di ranah ruang publik. 

Bagaimanapun, berdiskusi dengan guru atau bahkan orang yang lebih tua (walaupun bukan siapa-siapa) di ranah publik itu bukan adab yang baik, Sebagai yang muda, kita harus tau unggah-ungguh yang baik dalam menyampaikan pendapat kepada orang yang lebih tua. Karena hal itulah yang dibutuhkan saat ini, bukan kebenaran. Tapi kebenaran yang disampaikan dengan benar. Itu....

Eh nyadur tulisan tanpa izin salah gak sih ? hihihi


Tulisan ini beberapa saduran dari tulis Gus Khadafi Ahmad
Support dari Gus Zaeni
Dan tentu saja pengalam pribadi

Ingin Tapi tak Ingin



Sudah lama kiranya aku tidak menulis di portal ini lagi, bukan karena kesibukan atau apapun itu yang kaitanya dengan waktu, hanya tentang keinginan saja yang telah memudar, rasanya akhir-akhir ini memang aku sedang tak ingin menulis, ehh sebenarnya ingin sih, eh gimana yah ?

Di penghujung bulan November ini aku sebenaranya ingin sekali berbagi cerita dengan kalian-kalian semua tentang banyak hal, tapi kok ada rasa malas yang membuat keinginan itu menjadi ke-tidak ingin-an.

Jadi begini loh pemirsa, sungguh berat-berat banget ini aku mau nulis, sudah bebebrapa kata sudah aku hapus, aku tulis lagi, hapus lagi, aahgg entahlah. Ini kok malah jadi muter-muter. Suer ini kaya baru pertama ngeblog aja.

Entah berawal darimana, perasaan ingin dan tidak ingin itu muncul di bulan ini, November. Bulan yang setiap tahun terjadi gontok-gontokan debat kusir tentang PKI-PKIan itu.

Awal bulan, keuangan kacau berat, gaji ludes tanpa ampun untuk keperluan yang memang cukup mendesak. Aku masih mencoba tenang, mengandalkan kalimat Sudjiwo Tedjo "takut tidak bisa makan, itu menghina Tuhan", Aku mencoba berpikir jernih.

Memang benar, Tuhan tetap mengayomi-ku, tentu saja dengan teman-teman yang rela menghutangi gajinya atau sekedar menemani ngobrol agar aku lupa dari rasa lapar.

Atas hal itu aku berusaha nyari pemasukan tambahan. Banyak sih orang-orang yang nawarin aku buat jadi reseller, tapi masalahnya aku juga ingin tapi tak ingin. Hal itu disebabkan semua produk yang ditawarkan padaku adalah produk yang di jual secara online. Sedangkan aku punya prinsip, medsosku harus bersih dari jualan, karena di medsos itulah tempat aku mengeluarkan segala pemikiranku yang muda, progresif dan halahh mbuhlah.

Tapi akhirnya aku menerima salah satu permintaan, namun aku tidak bersedia menjadi reseller, aku hanya membantu menawarkan produknya. Alasan aku mau juga bukan karena kebutuhan akan uang tadi, tapi dikarenakan ideologi pula, pasalnya yang dijual adalah Kopi. Yah kopi (dan juga rokok dan buku) adalah hal yang aku ingin perkenalkan pada khalayak bahwa kopi (dan juga rokok dan buku) memiliki kenikmatan tersendiri.

Oke lupakan soal kopi, jualan kopi premium di negri yang masih belum bisa membedakan Komunis dan Atheis itu sia-sia, kalau bukan OKB, paling orang sok nyeni dan terhasut film filosofi kopi yang beli.

Berikutnya adalah tentang kemarahan. Jujur saja, aku hampir saja melupakan cara untuk marah. Bukan aku sok-sokan, tapi aku selalu melihat segala sesuatu itu sebagai bagian dari jalan Tuhan. Yah jadi ngapain kita marah kalau itu sudah kehendak Tuhan ?

Namun tidak dengan bulan ini, Bulan dimana hujan sudah kembali mengguyur Jakarta. 

Aku yang biasanya kena cipratan air genangan malah tertawa terbahak-bahak, di bulan ini aku di klakson dari belakang aja langsung aku pisuhi "Sabar Ngentod"

Aku yang biasanya menggangap semuanya sudah takdir Tuhan, tiba-tiba seringkali kesel dan marah dengan kelakuan-kelakuan makhluk Tuhan, dari di jalan, di medsos atau bahkan liat charger enggak rapi saja, aku banting.

Sebenarnya aku ingin kembali ke masa sebelumnya sewaktu aku lupa cara marah karena semua udah takdir Tuhan. Namun yah tadi keinginan itu menjadi tak ingin, karena aku pikir, jamgan-jangan kemarahanku ini sudah skenario Tuhan ?

Tapi aku mikir juga sih, apa ini gara-gara aku sudah jarang "bermesraan dengan Tuhan" ?

Oke lanjut lagi.....

Bulan ini sebenarnya ada beberapa lomba menulis, dari menulis essay, puisi hingga cerpen. Untuk kategori terakhir, bolehlah aku cukup lemah, namun dua kategori awal aku rasa itu bukan hal yang sulit. Hal itu membuatku ingin mengikuti salah satu dari lomba tersebut.

"Keinginan akan tetap menjadi keinginan jika tidak diteruskan dengan aksi" begitu kata orang. Namun bagiku, "Keinginan akan menjadi ketidak inginan jika tidak diteruskan dengan aksi dan malah ditumpuk membebani kepala". Yah lagi-lagi ingin itu menjadi tidak ingin dan akhirnya lombanya selesai tanpa ada aku didalamnya.

Yah pokoknya bulan ini sepertinya Tuhan sedang bercanda kepadaku. Aku yang terlalu woles, dibuat kelimpungan dengan rasa Ingin Tapi tak Ingin.

Sudahlah, tulisan kali ini memang tak ada pelajaran yang bisa diambil, ini aku tulis agar memenuhi hasrat Ingin-ku agar tidak menjadi Tidak Ingin.

Lagian ngalap pelajaran itu dari sekolah, pengajian, atau sowan ke rumah kyai. Bukanya baca tulisanku atau stalkin akun mantan.... unfaedah bangetdah...

Wanita, Berjuang tak Sebercanda Itu




Tadi malam, tanteku menggerutu terhadap bekas pacar anaknya (sepupuku) yang bajiluk sangat.

Pasalnya, sepupuku itu putus dengan sang wanita dengan sangat tragis dan mengenaskan.

Waktu itu sepupuku yang sebut saja bernama Akbar merasa ada yang berbeda dengan pacarnya si Jubaedah (singkatanya bukan JUrusan BAnci DAeraH yah). Pasalnya, Jubaedah yang tempat tinggalnya berjarak sekitar 1 jam lebih dari rumah si Akbar sudah jarang menghubungi si Akbar.

Akbar sebenarnya berniat untuk kerumah pacarnya itu, namun untuk memastikan Jubaedah ada dirumah, maka Akbar menelponya terlebih dahulu. Namun tidak disangka yang mengangkat justru suara laki-laki.

"Ini siapa yah ?" Tanya lelaki disana dengan nada tegas berwibawa

Akbar yang kaget berusaha untuk tenang lalu mulai berkata "Mau ngomong sama Jubaedah ada ?"

"Ada ini..." Handphonepun sudah berpindah tangan ke tangan Jubaedah.

"Kamu kemana aja ? beberapa hari ini tumben enggak minta jemput aku nganter kuliah ? terus tadi yang ngangkat siapa ?" Cecar Akbar dengan cepat.

"Oh itu tadi pacarku" Jawab Jubaedah singkat

Tanpa pikir panjang, berbagai makian keluar langsung dari mulut Akbar. Entah karena lelah atau apa, Handphone kini kembali ketangan cowok barunya Jubaedah. Dan yang tejadi justru keributan antara Akbar dan cowo barunya Jubaedah yang belakangan ngaku-ngaku sebagai seorang angkatan.

Aku tau betul perjuangan Akbar untuk mendapatkan Jubaedah. Dari perjalanan ngapel yang melewati jalur-jalur kemacetan Jakarta, dari Jakarta utara ke Jakarta selatan. Antar jemput jubaedah kuliah, padahal Akbar sendiri tak bisa kuliah, hingga harus bernyanyi lewat telephone untuk meninabobokan Jubaedah ketika hendak tidur.

Selain Akbar, aku punya sepupu lagi, sebut saja namanya Galon. Galon atau si Gagal moveon ini kisahnya tak kalah tragis dengan si Akbar.

Setelah putus beberapa lama, si Galon ini masih saja memikirkan bayang-bayang mantanya itu. Dan naasnya, mantanya kerapkali masih saja menghubungi dengan kata-kata manis dan sesekali mengajaknya bertemu.

Sebagai lelaki yang masih menaruh harap dengan mantanya itu. Tentu saja kata-kata manis dan ajakan jalan sang mantan adalah anugerah besar baginya.

Namun ternyata sang mantan itu sudah punya pacar baru, hal itu diketahui melalui media sosial miliknya yang selalu update photo lelaki barunya.

Dan bajiluknya si Galon tetap saja meladeni sang mantan yang jelas-jelas tidak akan kembali, ujarnya padaku "Usaha dulu man, hasil tidak pernah menghianati usaha". Jancuk tenan...

Dan hingga sekarang sudah hampir satu tahun, Galon dan mantanya masih seperti itu....

Adalagi tentang kerabatku yang sudah menikah dan sudah punya anak. Suatu hari dia melihat istrinya berselingkuh, tidak satu kali, namun berulang-ulang kali.

Namun apa yang dilakukan kerabatku itu ? Dia hanya mendiamkan saja...

Saat aku tanya kenapa ia tidak memarahi istrinya, jawabanya sungguh bikin aku terperanga.

"Selingkuhanya lebih kaya dari gue man, gue bisa apa ? dia pantas mendapatkan lelaki yang lebih bisa menafkahinya" Begitu jawabnya.

Edannn betul pikirku... Padahal aku tau betul kerabatku itu untuk menfkahi anak istrinya mau berjuang jumpalikan kaya apa, dari jadi kernet, pelayan warteg hingga pekerjaan-pekerjaan apapun rasanya hampir pernah ia lakukan.

Ada juga kejadian seseorang yang gagal menikahi pacarnya yang telah dipacari selama empat tahun, hanya gara-gara si cewe tidak pernah melihat si cowok memiliki modal yang cukup.

Padahal selama 4 tahun itu, si cowok menabung untuk mempersunting si cewek suatu saat lagi. Namun ia tidak pernah menceritakan pada si cewe, menurutnya suatu saat jika sudah waktunya dia akan datang ke orang tua si cewe, lalu membuat acara pernikahan yang paling berkesan.

Namun nasi sudah menjadi bubur, si cewe sudah memutuskan untuk berpisah. Jadilah uang itu hanya abis untuk foya-foya menghilangkan stres akibat diputusin secara sepihak.

Aku sendiri mungkin agak sedikit beruntung, empat kali pacaran, 2 kali ditinggal akibat lelaki lain, 1 kali ditinggal tanpa alasan dan 1 kali ditinggal dengan alasan klasik.

Dengan rekor seperti itu, yahh tidak buruk-buruk amatlah dibanding rekan-rekanku yang aku ceritakan di atas.

Tapi begini loh, aku melihatnya kok wanita selalu memandang dari kacamata yang retak, tidak utuh. Hanya memandang prianya dari sudut yang mereka mau. Padahal dibalik sudut pandang mereka, tersimpan perjuangan yang tidak mudah bagi si lelaki.

Bahkan tak jarang lelaki haru menangis menghadapi wanitanya. Bagi seorang lelaki, menangis adalah suatu aib yang begitu besar, maka jika lelaki sudah menangis, berarti sudah banyak beban yang ia pikul selama ini.

Ingatlah wanita, berjuang tidak sebercanda yang kalian pikirkan...

Tabik...

Hanya Sebuah Bendera, Benarkah ?

https://musyafucino.wordpress.com/2011/03/28/benarkah-bendera-indonesia-adalah-bendera-rasulullah/

Event olahraga terbesar se-Asia Tenggara yang digelar dua tahunan baru saja dibuka. Kali ini Malaysia di daulat sebagai tuan rumah penyelenggara acara yang dinamakan Sea Games itu

Dibalik kemeriahan pembukaan Sea Games di negerinya Siti Nurhalizah itu, terdapat suatu hal yang membuat heboh, khususnya untuk warga negara Indonesia.

Pasalnya, dalam buku panduan yang dibagikan oleh penyelenggara, terdapat gambar bendera Indonesia yang terbalik, yakni menjadi putih-merah, bukanya merah putih.

Kontan saja, warganet Indonesia yang terkenal militan bak Jihadis langsung saja bergerilya kesegala jenis media sosial mengecam pihak penyelenggara yang dinilai melakukan kesengajaan untuk melecehkan Bangsa Indonesia di bulan sakral, bulan kemerdekaan Indonesia.

Namun, dibalik derasnya kecaman yang disuarakan oleh jihadis warganet itu, tirdapat suara-suara minor yang tidak kalah pesatnya akan kasus ini.

Mereka-mereka yang juga warga negara Indonesia ini, menganggap hal-hal tentang atribut-atribut seperti ini tidak perlu dibela mati-matian, toh itu hanya sebuah bendera, katanya.

Bagi mereka, ada hal-hal yang lebih penting untuk dibahas, mereka lebih khawatir tentang kebangkitan PKI, pembangunan Meikarta dan hal-hal sejenisnya itu.

Oke, aku setuju memang ada hal-hal lain yang sifatnya harus segera diselesaikan, tentang kesenjangan sosial yang tidak kunjung usai, terciptanya demokrasi semu karena permainan elit politik, serta setan korupsi yang terus menghantui negri.

Namun perlu diketahui, menurutku memikirkan hal-hal diatas tanpa memikirkan simbol-simbol serta kehormatan negara justru membuat kita terperangkap dalam egoisme dan rasa apatis terhadap sesama warga negara.

Bendera merah putih yang telah lama digunakan oleh kerajaan Majapahit, Aceh dan Raja Sisingamangaraja hingga Diponogoro ini bagiku bukan hanya sebuah bendera, didalamnyalah terdapat semacam panji martabat, lambang persatuan dan penangkis egoisme pribadi.

Aku jadi ingat tentang Ja'far bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah, panglima perang kedua setelah Zaid bin Haritsah saat perang mut'ah melawan kekaisaran romawi.

Panglima perang yang konon secara fisik sangat mirip dengan rasulullah tersebut mengkomandoi pasukanya dengan memegang bendera kesatuan kaum muslimin di tangan kanan. Setelah tangan kananya ditebas oleh musuh, beliau memegangnya dengan tangan kirinya, setelah tangan kirinya juga terkena tebasan,beliau tetap mempertahankan benderanya agar tidak jatuh ke tanah. Dengan berusaha terus memeluk bendera tersebut, akhirnya sang panglima gugur dan digantikan Abdullah bin Rawahah yang memegang komando serta panji-panji bendera tadi.

Atas hal itu, diriwayatkan, Allah mengganti kedua lengan sepupu rasul tersebut dengan sayap. Hingga Rasulullah memberinya gelar Ja'far At-Thayyar atau Ja;far yang bisa terbang.

Ada banyak lagi cerita-cerita heroik tentang bendera ini. Dari kisah di hotel Yamato yang fenomenal itu hingga kisah Bung Karno yang mati-matian melindungi bendera pusaka saat situasi sedang genting di tahun 1965.

Memang, bendera hanya sebuah kain berwarna. Namun hakikatnya itu jauh daripada itu. Bendera adalah simbol-simbol yang perlu dihormati sedemikian rupa, dan berawal dari rasa menghormati itulah kita bisa tulus membangun negri, tanpa berkabut kepentingan pribadi.

Hanya Sebuah Jarak, Katanya..

http://auradankecantikan.com/6-tips-sukses-pacaran-jarak-jauh-agar-tidak-bosan/

"Hanya sebuah jarak..." Kataku suatu ketika menanggapi temanku yang curhat tentang problemanya dengan sang kekasih yang berbeda kota tersebut.

Sambil bersungut-sungut temanku ngedumel "Lu enggak tau Ar, ini lebih dari sebuah jarak, ini rumit"

Sejatinya memang aku tidak begitu mengerti tentang apa yang dirasakan temanku itu, namun masalah berjarak, bolehlah aku mengklaim lebih berpengalaman dari temanku tadi.

Sebagai Jomblo Kelana, kerapkali aku aku harus berpisah dengan kekasihku, tentunya dulu waktu masih punya kekasih, eh sekarang punya enggak yah ? anggap saja enggak punya, di blog ini kan aku selalu jomblo ? oke ?

Tentunya bukan hanya kekasih atau bahasa gaulnya pacar yang berjarak denganku, ada keluarga, sahabat dan berbagai macam manusia yang tadinya begitu dekat namun tiba-tiba menjadi jauh.

Dulu, dulu sekali... aku kerapkali menyinyiri orang yang berpacaran jarak jauh. Kerapkali aku memandang mereka itu bodoh dengan terus menerus melakukan hubungan tersebut.

Pacaran jarak jauh atau disingkat PJJ (aku lebih suka menyebutnya demikian dibandingkan dengan LDR) itu suatu hal yang sangat penyakita. Saking banyaknya penyakit, orang yang LDRan ehh PJJan ini bisa mengalami komplikasi hati.

Dari banyaknya penyakit orang PJJan, yang paling rentan itu penyakit salah paham, wong yang dekat saja bisa salah paham, apalagi yang jauh ?

Kesalahpahaman dapat dicegah dengan bertemunya dua insan, menatapnya dua pasang mata dan bergeseknya kulit demi kulit. Nah kalau jaraknya jauh ? gimana mau bertemu dan menyelesaikan kesalahpahaman ? yang ada malah terjadi ketidakpercayaan tanpa ujung atau jika berbaikanpun tetap menghasilkan masalah baru yang bernama RINDU.

Memang aku sering berkata "Sebaik-baik merindu adalah tidak bertemu" Tapi yoo itukan cuma quotes murahan basi hasil permainan kata dari Arya Iman Fatio. Tetap saja bagaimanapun kalau rindu yah harus bertemu.

Memang sih katanya di jaman yang sudah canggih ini kita bisa bertatap muka dimana saja lewat Smartphone yang kita miliki. Tapi apakah iyah ? Hangatnya genggaman tangan dan memburunya desahan nafas dapat digantikan oleh panasnya Smartphone kita ? yahh enggak.

Dalam sebuah pertemuan, pasti memiliki arti dan kesan tersendiri. Dan LDRan ehh PJJan itu sulit sekali bertemu, lalu bagaimana mau berarti ? bagaimana mau berkesan ? yang ada rasa curiga dan perdebatan-perdebatan kecil yang mudah sekali menyulut kemana-mana bahayanya.

Kadang aku sempat berpikir gini "Kok orang mau yah jarak jauh begitu, yang dekat saja banyak ngapain nyari yang jauh-jauh?"

Tapi itu semua dulu, dulu sekali, entah kapan....

Sekarang aku berfikir, jarak bukanlah masalah berarti bagi orang yang mencinta. Yang namanya salah paham itu pasti ada, namun besar kecilnya pemahaman bukan karena jarak, ada hal yang lebih kompleks dalam hal ini. Lalu tentang Rindu, jarak memang membuat kita rindu, namun cinta mana lagi yang lebih besar dibanding cintanya para perindu ? lagipula kata Rhoma Irama "Semakin lama kita berpisah, semakin mesra... Saat berjumpa" begitulah katanya di lagu Malam Terakhir.

Jadi jika cintamu besar, jika kau benar-benar yakin padanya, perbedaan tempat bukan hal yang dapat menghalangi cintamu. Toh itu hanya sebuah jarak, katanya....

Kerinduan


Malam ini kita kembali berjumpa
Saling menatap, masih tanpa kata

Ingin aku menamparmu, kekasih
Yang pergi tinggalkan cinta yang bersih
Jika tidak sebersih ini, mungkin tak sesakit ini
Aku mencoba menjangkaumu, tapi kau menjamah yang lain
Namun benci dan dendam bisa aku kubur, kekasih
Tapi kerinduan tetap bergentayangan tanpa henti
Selama ini aku mencoba diam
Berharap kerinduanku membuatmu tercekam
Namun malam ini kau di hadapanku
Aku peluk kau dengan peluh
Aku cium kau dengan air mata
Meski tanpa kata, meski tiada doa
Aku bisikan pada telingamu
Dengarlah hai kekasih...
Berjuta kali kau pergi, beribu kali kau berganti nama
Rinduku tetap padamu
Karena aku menyembah kamu, bukan tempatmu, atau namamu...
Dari hamba, kepada Tuhan sang kekasih...

Tips Mendapat Jodoh yang Kita Inginkan


Oke kali ini aku menulis suatu tips yang cukup menarik untuk dibaca oleh kawula muda yang sedang mencari tambatan hati untuk di nikahi.

Sebenarnya tulisan ini terinspirasi dari salah satu grup WhatsApp yang ngomongin nikah melulu tapi penghuninya enggak ada yang nikah-nikah. Hafal konsep saja yang di pupuk menjadi keinginan namun gerakanya nol, ragu ini, ragu itu, macam mantan kepala suku di grup itu yang sekarang sudah bukan lagi kepala suku karena beliau sudah diangkat menjadi Duta Shampo Lain Air Mata Asmara, siapa lagi kalau bukan Supry

Oke, agar kita tidak seperti bapak Air Mata Asmara tersebut, waktunya kita tinggalkan konsep-konsep yang njelimet tentang cinta, waktunya kita bergerak dan cari cinta itu.

Oke langsung saja kita ke tips yang pertama agar kita bisa memperoleh jodoh yang di inginkan.


Carilah Pada Waktu yang Tepat
Waktu yang tepat kapan sih untuk mencari jodoh ?

Waktu yang tepat bagi setiap orang itu berbeda-beda saudara. Setiap orang mengalami hal-hal yang berbeda setiap detiknya, maka untuk mencari pasanganpun waktunya berbeda.

Di dalam mencari pasangan kita harus yakin kita sudah sampai pada waktu yang mumpuni. Baik mumpuni secara materil maupun mental.

Karena bagiku, mendapatkan seorang jodoh disaat materil kita masih pontang-panting dan mental kita masih kekanak-kanakan. Yang datang justru bukan jodoh yang di inginkan, namun jodoh yang hanya didasari semangat mencinta tanpa mengerti esensi cinta itu sendiri. Yah kaya Supry inilah... Semangatnya menggebu sangat, namun dia melupakan esensi-esensi dasar percintaan.


Carilah Pada Tempat yang Tepat
Sama halnya dengan waktu. Dalam mencari jodoh harus pada tempat yang tepat pula.

Mencari ikan laut itu di laut, mencari ikan tawar itu di sungai, tambak atau tempat air tawar lainya.

Dan mencari jodoh yang di inginkanpun harus tau tempatnya. Kalau mau cari jodoh yang hafidz yah cari di tempat-tempat pengajian, cari jodoh pengusung khilafah, cobalah masuk HTI.

Wong tiap hari nongkrong di angkringan, pengenya jodohnya kaya Desi Ratnasari, mimpimu itu kaya Supry aja, pengen dapet jodoh ade kelas, capernya di IG. Udah tau doi jarang buka IG, cobalah caper ditempat lain.


Ngaca
Ini yang terakhir namun paling fatal.

Kita emang harus banyak-banyak ngaca sebelum kita menargetkan jodoh seperti apa yang harus kita dapatkan.

Jangan sampai kita menargetkan hal yang terlalu tinggi, tanpa ngaca seberapa rendah kita.

Mungkin si Supry berjuang selama hampir 3 Tahun ini selalu gagal karena lupa berkaca diri huhuhuhu



***


Oke itu semua adalah tips dari saya, dan jika ada yang menentang tips tersebut, aku akan menentang yang paling depan.

Bagaimanapun aku penggemar berat Supry, teory-teory cintanya meski tidak masuk di akal namun sungguh menginspirasi.

Biarlah tulisan ini menjadi tips orang-orang yang hanya berfikir tekstual, kaku dan serba dengan hitungan yang mumet. Dan biarkan orang-orang sepertiku dan juga Supry mendapatkan jodohnya dengan selaw, dengan cinta, dan beberapa tetes air mata.

Gunakanlah tipsku di atas, kau mungkin akan mendapatkan jodoh yang diinginkan. Tapi belum tentu kau mendapat kebahagiaan, mendapatkan cinta.

"Banyak orang menikah, namun sedikit yang merasakan cinta" begitulah kata Sudjiwo Tedjo

Hidup Supry.....

Ngaji Sorogan : Mengaji Sambil Bermain

http://www.pontrenalmusyarrofah.com/2015/11/belajar-mengaji-dengan-sisten-sorogan.html?m=1

Meski bengal-bengal begini, dulu aku pernah sekolah keagamaan loh, namanya sekolah TPQ atau kepanjangan dari Taman Pendidikan Qur'an.

Di sekolah TPQ tersebut kurang lebih aku bersekolah selama 6 tahun. Cukup lama dibanding beberapa temanku yang lain.

Semakin lama sekolah TPQ, bukan suatu kebanggan untuk anak-anak di kampungku. Karena sistem sekolah TPQ itu semakin cepat menguasai pelajaran yang diberikan oleh para guru, maka semakin cepat kita lulus. Jadi taulah kualitas ngaji saya bagaiamana kan yah ?

Di TPQ tersebut, kami biasa menggunakan metode Ngaji Sorogan. 

Ngaji Sorogan itu ngaji yang muridnya ngantri untuk mendapat giliran membaca kitab, lalu setelah giliranya, si murid akan membaca kitab sambil di koreksi oleh seorang Mursyid atau guru.

Hampir semuanya metode yang digunakan di TPQ tempat aku belajar menggunakan metode sorogan. Dari ngaji Alif Ba Ta, Hafal-hafalanTajwid, wirid, tahlil, doa pendek, Juz Amma, hingga tentu saja baca Al-Qur'an semua dilakukan dengan sorogan.

Yah namanya juga Taman Pendidikan Qur'an, layaknya taman-taman lainya, di tempat ini kita juga bebas bermain kesana-kemari.

Alih-alih mengantri untuk menunggu giliran mengaji, para santri justru asik bermain di bagian belakang kelas yang memang entah sengaja atau tidak, di setiap kelas selalu di sisahkan ruang kosong yang cukup luas.

Sebenarnya, sebelum masuk kelaspun, kami sudah asik bermain di halaman sekolah. Dari ngobrol-ngobrol ringan, maen gamebot tarikan sampai nyicipin semua jajanan yang ada di TPQ, kami lakukan sambil menunggu guru datang.

Guru-guru kami memang agak njelei soal kedatangan. Bukan hanya sering terlambat datang, bahkan kami beberapa kali harus mendatangi rumahnya untuk menjemput beliau-beliau ini.

Tapi aku juga dapat memaklumi, pasalnya guru-guru kami sama seperti orang di desa lainya, punya pekerjaan lain, kadang ke sawah, yang jadi orang pemerintahan di balai desa juga kadang ada rapat-rapat pejabat, ada juga yang masih sibuk dengan kuliahnya. Namun hal tersebut tidak membuat mereka mengeluh untuk mengajar kami ngaji, yang tentu saja dengan metode sorogan.

Selain di sekolah TPQ, aku dan anak di desaku juga biasanya melanjutkan untuk mengaji di rumah Pak Kyai yang letaknya juga tidak jauh dengan tempat aku bersekolah di TPQ.

Di rumah Pak Kyai ini, kami hanya difokuskan untuk membaca Al-Qur'an yang lagi-lagi metode belajarnya menggunakan metode ngaji sorogan.

Selain metode yang sama, guru-guru yang mengajar di rumah Pak Kyai ini juga kebanyakan adalah guru-guru yang mengajar aku di TPQ.

Sama seperti di TPQ, aku di tempat ngaji ini juga lebih banyak bermainya. Datang sehabis ashar, kami biasanya bermain bola, memanjat pohon kresem, atau kebut-kebutan di jalan dengan sepeda masing-masing.

Baru ba'da maghrib kami berkumpul berbaris satu persatu untuk menunggu giliran ngaji

Semua itu aku dan teman-temanku lakukan setiap hari tanpa henti, kecuali malam Jumat dan hari Jumat kami libur. 

Dari ngaji sorogan itulah kami warga desa dari yang tidak mengerti apapun tentang huruf hijaiyah, menjadi bisa membaca Al-Qur'an.

Bukan hanya itu, proses yang dilakukan setiap hari, bermain, belajar, bertemu orang yang sama, guru yang sama, membuat persaudaraan kita benar-benar sudah seperti saudara sendiri. Teman-teman sudah seperti laiknya kakak beradik, guru-guru sudah seperti orang tua sendiri, bahkan jika di luar jam ngaji, guru-guru, orang tua murid dan muridnya tetap bermasyarakat seperti biasa, tidak kaku seperti guru-murid pada umumnya.

Dan ketika fullday school di agendakan pemerintah dan di dukung oleh Ormas Muhammadiyah, aku kok jadi merasa mereka ingin mematikan pendidikan karakter yang sudah tercipta di masyarakat Indonesia dengan pendidikan karakter ala barat yang hanya fokus pada akademik ?

Sudahlah, cukup Jakarta saja yang menjadi kota mati, mati karakternya, mati nuraninya....

Dari Tuhan Akan Kembali ke Tuhan


Selamat jalan, selamat jalan....
Dirimu jalan, kasihmu tertinggal kan

Tak pernah kulupa segala sayangmu
Tetap abadi dalam sanubariku

Semangatmu getarkan nuraniku
Akan kujaga agar kau tetap hidup di nadiku

Entah harus bagaimana lagi
Kini waktunya engkau bersatu dengan Ilahi
Meski hatiku takan pernah rela
Meski jiwaku takan pernah sanggup
Namun aku tetap tak bisa mengelak pergimu

Dari Bukber ke Bukber

http://www.kaumy-dki.org/2015/06/17/bukber-bersama-kaumy-dki-2015/

Namanya buka puasa bersama
Dari restoran, masjid, hingga pinggiran jalan raya
Sama-sama mengucap syukur, meski berbeda rasa


Dari bukber ke bukber aku lewati
Kurma, kolak pisang dan es buah selalu dihati
Ketemu Dede gemes di bukber itu lain lagi
Kalau ketemu mantan, aduh bikin keki


Dari bukber ke bukber telah dicoba
Ternyata waktu cepat juga
Ramadhan akan pergi lagi
Dan bukberpun mengikuti pergi