Belajar Dulu Sana...




"Man... Iman... Matiin dulu TV-nya, belajar dulu sana..."
Mamahku sudah teriak-teriak dari teras rumahku, membuatku yang sedang asik menonton acara kesukaanku di televisi menutup telinga dengan bantal, pura-pura tak dengar.

Lama tak terdengar suara, aku kembali membuka bantal yang kugunakan untuk menutup telinga dan lanjut menonton acara di layar televisi. Tak lama terdengar suara langkah kaki dari teras rumah menuju tempatku menonton TV, reflek.. aku memejamkan mata pura-pura tertidur, tak lama kemudian tubuhku terasa digoyangkan dan terdengar suara Bapa "Man.. jangan tidur dulu, makan dulu sana.."
Aku yang pura-pura tidurpun terbangun, karena aku tak pernah bisa menolak jika di suruh makan oleh Bapa atau Mama.

Setelah selesai makan dan mencuci piring tentunya, aku berniat untuk kembala menyalakan TV, namun remot sudah di tangan Bapa, dengan muka nyebelinya Bapa malah nyuruh aku belajar "Belajar dulu sana.. besok ulangan kan ? nanti gampang nonton TV lagi"
Aku yang sedikit merengek dan penuh penolakan untuk belajar, dan sedikit tawar menawar, akhirnya nurut juga untuk Belajar.

Memang Bapa dan Mamaku tak setiap hari menyuruhku belajar, paling saat ada Ulangan Harian, UTS atau UAS saja. Dan akupun selalu ogah-ogahan di suruh belajar, pasalnya aku adalah orang yang bertipe "Bertambah Malas Jika ada yang Memerintah".

Hari berganti hari, semester berganti semester, aku kini tak tinggal lagi dengan Bapa dan Mamaku. Lega rasanya menjadi bebas tanpa suruhan ini-itu, termasuk suruhan untuk belajar. Hal itu aku rasakan selama 1 tahun.

Pada tahun berikutnya yang terjadi justru aku merasakan rindu suruhan-suruhan itu. Omelan-omelan yang memekakan telinga saat aku tak mau belajar, kalimat bujuk rayu seperti "Belajar dulu sana.." yang keluar dari Bapa dan Mama sungguh sangat ku rindu.

Beberapa kali Ujian, tak pernah ada yang ngomel nyuruh belajar, membuat masa-masa SDku tak pernah belajar hingga akhirnya lulus SD. Memang sih tak banyak berpengaruh dengan prestasiku di sekolah, aku tetap rangking satu hingga kelas 6 SD, nilai UASBNpun terbaik ke-6 dalam satu sekolah.

Ternyata semua itu berlanjut hingga SMP, tak pernah aku membuka buku di rumah untuk mempelajari atau sekedar mereview pelajaran di sekolah, sekali buka buku mungkin hanya baca komik atau Novel, atau juga paling banter bikin komik asal-asalan (waktu itu lagi suka bikin komik).
Tetap saja prestasiku tetap bertahan dan cenderung baik.

Hingga sekarang aku sudah duduk di kelas 3 SMK, terkadang aku masih merindukan kata-kata "Belajar Dulu Sana..."

Meski prestasi di sekolahku selalu baik, namun tetap saja ada yang kurang dalam kepuasan batin, masih ada yang mengganjal, merasa hasil ini toh buat apa ?

Jengkel rasanya jika melihat teman yang sering mengomel keterlaluan ke Bapa atau Mamanya saat di suruh belajar, mereka belum merasakan rindu yang mendalam atas suruhan-suruhan tersebut.

Saat kita beranjak dewasa nanti, Bapa atau Mama kita tak akan mungkin lagi menyuruh kita untuk belajar, tak akan ngomel-ngomel lagi nyuruh buka buku, atau apalah.

Yah mungkin hal-hal yang kita anggap sepele seperti inilah yang akan kita rindukan dari masa-masa kita sekolah....



0 komentar: