Dari Jomblo untuk Pimpinan DPR : Arti Selembar Masker


Kepada Pimpinan DPR yang Terhormat

Sebelumnya kami minta maaf karena surat yang kami kirimkan ini tidak sesuai dengan penulisan surat formal sebagai mana mestinya.
Toh sepertinya kita memang tidak harus formal-formal amat kan ? wong ini surat dari atasan kepada bawahanya ?
Nah iyah kan kami atasan, kalian ini kan cuma wakil kami di parlemen ? yang namanya wakilkan pasti jabatanya lebih rendah daripada yang diwakili kan ?

Dengan datangnya surat ini saya ingin mempertanyakan tanggung jawab kalian sebagai wakil dari kami di parlemen.
Kami tidak akan mengomentari kalian tentang kunjungan kalian menemui Uncle Donald, itu sudah terlalu basi meski itu menyakiti hati kami. Gimana gak sakit ? bagaimana mungkin kalian bilang bahwa masyarakat Indonesia menyukai uncle ? padahal sudah jelas kami khususnya para Jomblo sangat membenci uncle. Ko benci ?  iyalah ... wong Trump itukan sangat membenci apa yang tidak satu haluan dengan dia, bahkan dia akan mengusir orang-orang yang tidak sehaluan.
Nah kalo dia jadi pemimpin gimana ? bisa-bisa kami Para Jomblo yang hidupnya sudah tertindas makin tertindas saja.

Oke kembali lagi pada topik
Sebenarnya kami ingin mengomentari kalian perihal penggunaan Masker saat rapat. Kami tidak akan mencap kalian pecitraan padahal memang pencitraan , kami tidak akan menyuruh kalian untuk turun langsung ke lokasi bencana asap karena kami yakin kalian tidak mampu atau mengkritik kalian tentang pansus asap yang sebenarnya memang tak perlu dan hanya akan jadi pundi-pundi uang tambahan bagi kalian beban anggaran.

Kami hanya merasa tidak di perhatikan oleh kalian. Bolehlah kalian berempati kepada korban asap, itu boleh meski tujuan utamanya adalah pencitraan. Tapi mengapa kalian tidak pernah berempati kepada kami para Jomblo ? sebelum ada bencana asap, kami disini sudah merasakan bencana hati. Sebelum korban asap merasakan sesak napas, kami sudah merasakan sesaknya terbelenggu oleh bayang-bayang mantan.
Tapi tetap saja kalian seperti yang lainya, yang tidak pernah peduli kepada kami. Kalian membuat Pansus Asap namun tak pernah membuat Pansus Jomblo untuk menyelidiki ketidakadilan Rezim Malam Minggu kepada kami.

Jika kalian menggunakan masker saat rapat untuk berempati kepada korban asap, bisalah kalian berempati kepada korban asmara seperti kami dengan menggelar sidang di malam minggu di hadiri oleh para muda-mudi yang saling memagut kasih di depan kalian. Itu lebih berempati dan kami jamin tidak ada yang menyebut aksi kalian sebagai tindak pencitraan.

Yang terakhir...
Bisa gak yah kalo mau berempati dengan korban asap jangan pake masker saat rapat, wong namanya rapat kan banyak ngomong, masa iyah mulutnya di tutupin ? bagaimana rapat bisa egektif ? logikanya dimana ?

Etsss.. atau jangan-jangan penggunaan masker adalah pesan tersirat bahwa ucapan-ucapan kalian itu tidak bermakna, busuk dan pantas untuk di tutupi dengan masker ?



Dari Kami
Jomblo Kesayangan Tuhan (JKT) 48 




0 komentar: