Sahabat Lamaku



Aku bangga padamu wahai sahabat lamaku
Sekarang hidupmu lebih mapan
Usahamu sejak dahulu terbayar lunas
Hampir 10 tahun lamanya kau terkurung di penjara sucimu
Penjara suci yang kau sebut tak pantas untukmu

Wahai sahabat lamaku
Makin hari dirimu sering kulihat di televisi
Meski aku tak paham, kau tampak hebat dengan dalil-dalil yang kau pelajari di penjara sucimu
Tak heran kian hari pengikumu selalu bertambah
Semua sejalan dengan pundi-pundi rupiah di kantongmu

Ingatkah kau dengan diriku wahai sahabat?
Aku yang dulu sering kau cekoki miras murahan yang rasanya aku tak suka
Aku yang dulu sering di marahi bapakmu, karena membantumu kabur dari pesantren
Aku yang dulu pernah kau hajar karena bercumbu dengan adikmu
Aku yang dulu sering kau ajak mencuri ketelah Pak Kades yang kikir itu

Hari ini kudengar kau kembali ke desa ini
Tak sabar ingin kutumpahkan semua rinduku yang telah menggunung
Mungkin kita akaan berbincang mengenai masa-masa bersama kita dulu
Ditemani rokok kretek dan kopi hitam, persis seperti dulu
Ah rasanya aku sudah tak sabar

Semua anganku ternyata tetaplah menjadi angan
Kau kini tak mengenal diriku
Kau bilang tak pernah berteman dengan berandalan macam aku
Kau berseloroh hanya berteman dengan para ulama dan sejenisnya
Karena berteman denganku hanya akan mengotori kesucianmu

Bangsat ... !!!
Aku terus memakimu dalam hati

Wajahmu yang teduh tidak sebanding dengan sikapmu padaku
Jika ilmu agama membuatmu tidak mengenaliku
Maka lebih baik kau tak ber agama


0 komentar: