Sebelum Bendera Kuning Berkibar



Malam itu seperti biasa aku sedang mengolah Ayam di penggorengan, sambil sesekali nguleg sambel pecel yang resepnya cuma keluargaku yang tau. Tiba-tiba terdengar suara motor dari arah depan warung, aku kira hanya pelanggan, ternyata si Bedul, sahabat baiku yang memang setiap malam sering nongkrong di warung pecel leleku.

Si Bedul terlihat santai seperti biasanya memasuki warung pecel lele yang lebih mirip mini rumah makan di banding warung pecel lele pada umumnya. Aku menyelesaikan satu pesanan kemudian duduk di samping Bedul.

Bedul mengeluarkan sebungkus rokok dari kantongnya lalu melemparkanya ke arahku. Aku tangkap dan kulirik merk rokoknya ternyata Gudang Garam Internasional atau kami biasa menyebutnya filter.

Si Bedul memulai pembicaraan 'man bikinin gue kopi man, yang panas yah'
Aku beranjak dari tempat duduk, sedikit ngomel basa-basi aku membuatkan dua kopi hitam, satu untuk Bedul, satu untuk aku tentunya.

Aku paham betul jika si Bedul datang langsung memberi rokok dan minta di buatkan kopi, tandanya ia punya masalah yang cukup pelik.

Aku coba sedikit memancing sambil sesekali menyeruput kopi yang masih panas "Jadi ceritanya lagi marahan nih ama pacar?"

"etsalam pacar aja kaga punya man" Bedul menjawab sambil cengar-cengir ngisep filter yang ia bawa tadi.

"makanya cari pacar dong" ucapku sekenanya sedikit meledek

si Bedul diam tak menghiraukan kata terakhirku, kulihat matanya sedang berasap tebal, lebih tebal dari asap Filternya. Lalu ia mulai kembali bicara "Salah gak sih man mencintai orang yang sudah punya pacar?"

Aku meringis sebentar, alih-alih menjawab, aku justru berbalik bertanya "mencintai itu hal yang salah enggak menurut luh dul ?"

"Enggaklah.. " Jawabnyaa singkat namun tegas

"Yowis.. selesai masalahmu" Aku jawab santai 

Si Bedul belum puas "Masalahnya dia udah punya pacar man, jadi gue malah jadi PHO dong, gue salahkan ?"

"nah luhh mau mencintainya atau mau memilikinya ? kalo mencinta mah gak masalah, kalo memilikinya yah nunggu dia lepas dululah" Aku jawab kali ini lebih serius

Lalu aku melanjutkan "Setiap orang bebas untuk mencintai siapapun, tapi kalo udah bicara memiliki itu luh harus liat ada yang punya apa enggak, kalo ada yang punya yah luh terus aja mencinta tanpa memiliki, luh tunjukin besarnya cinta luh sama dia"

Bedul manggut-manggut lalu lanjut bertanya "Sampai kapan terus begini ?"

"Sebelum bendera kuning berkibar luh masih punya harapan untuk milikin dia dul" Jawabku yakin

"Bendera kuning ? janur kuning kali ?" Protes Bedul padaku

Aku hisap rokoku yang sedari tadi belum terhisap karena keasyikan ngoceh, lalu aku kembali ngoceh "Janur kuning melengkung masih bisa di sengget, kalo bendera kuning berkibar udah gak ada harapan luh"

Mungkin sampai disitu saja percakapan aku dengan si Bedul, intinya aku cuma ingin memberi semangat pada kaum Jomblo sealam dunya, bahwa kita para Jomblo bukan berarti kering cinta. Kita para Jomblo justru harus subur cinta, kita sebarkan virus-virus cinta ke siapapun yang kita ingin, tak peduli udah ada yang punya atau belum, selama tidak mengharapkan cinta balasan, selama bendera kuning belum bekibar, kita bebas untuk mencintai siapapun, walau akhirnya cinta kita tak pernah di anggap...


0 komentar: