Aku Mencinta Seperti Merokok


Di pagi yang mendung setelah di guyur hujan, ijinkan saya yang hatinya sedang mendung juga untuk menulis hal yang sebenarnya enggak perlu di baca oleh kalian ini. Selain untuk mengisi kekosongan waktu di kelas, tulisan ini juga hanya untuk mengisi label Curcol di blog ini.

Tulisan ini terfikir ketika banyak client saya (Baca : Temen yang suka curcol) bertanya, "dalam mencinta, luh pake cara gimana sih ?". Pertama memang agak gelagepan menjawab pertanyaan seperti itu, meski banyak menyelesaikan kasus percintaan client saya, namun saya bukanlah pemecah masalah yang baik untuk kasus percintaan pribadi. wajar dong ? wong Yudhistira yang begitu bijaksana saja masih butuh Kreshna ?

Namun karena terlalu seringnya pertanyaan yang demikian, akhirnya saya mencoba menjelaskan yang sebenarnya sesuatu yang abstrak. Yah daripada client saya tidak percaya lagi dengan saya dan mengurangi jatah kopi dan rokok saya.

Saya coba menjelaskanya secara sederhana bagaimana sih saya mencinta ? yah sama seperti saya merokok. Lah ko bisa ?


MENYALAKAN API ADALAH KUNCI
Dalam merokok, kita tidak asal kempus lalu keluar asap. Sebelum merokok, kita harus menyalakan rokok dengan api tentunya. Dalam menyalakan rokok, dengan korek kayu atau korek gas (beda cerita jika menggunakan kompor gas di rumah), para perokok punya posisi yang sangat khas, yakni dengan sedikit memiringkan kepala lalu berfokus pada api, mengamati benar agar api tidak padam dan tepat mengenai rokok.

Sama seperti merokok, sebelum mencinta (tepatnya sebelum jadian), kita harus mribik (PDKT) dengan benar, sama seperti menyalakan rokok, kita harus fokus pada dia. Mengamati dia agar cintanya tidak padam sebelum jadian, jangan sampai pas jadian malah sudah hambar, maka jaga baik-baik api cintanya sebelum tepat mengenai cinta kita.


HISAPAN PERTAMA PALING NIKMAT
Dalam merokok, setelah menyalakan api barulah kita mulai menghisap. Hisapan pertama itu yang paling nikmat, paling berkesan dan paling... apalah gitu tak bisa dituliskan dengan kata-kata.

Biasanya dalam hisapan pertama, ingatanku hilang seketika. Serius ini bukanya memperlebay, tapi memang benar saat hisapan pertama, yang aku ingat yah cuma diri saya saat itu (tanpa teringat masa lalu dan terfikir masa depan). Oleh sebab itulah saya biasa menghisap dalam-dalam pada saat hisapan pertama agar sensasinya lebih nikmat dan tentunya di keluarkan secara perlahan agar nikmatnya berlipat ganda.

Dalam bercinta, saya akui kejadianya hampir sama dengan merokok. Saat pertama kali jadian itu rasanya wOw banget gitu sampai dunia terasa berhenti berputar.

Karena rasanya yang hampir mirip dengan hisapan pertama saat merokok, sayapun mencoba melakukan hal yang sama. Yakni menghisap dalam-dalam lalu keluarkan perlahan. Yang maksudnya dalam mencinta di awal saya akan terus menggebu lalu perlahan menurunkan tensi agar tidak terjadi kebosanan di awal pacaran.


NEMPEL GAK NEMPEL TETAP NIKMAT
Merokok tidak selamanya mulut menempel pada rokok, ada kalanya merokok butuh waktu untuk mengeluarkan asap rokok yang tentu saja mulut saya tidak menempel pada rokok.

Namun yang perlu di ketahui, dalam menghisap ataupun mengeluarkan asap rokok, rasanya itu sama-sama nikmat. Justru keduanya itu adalah hal yang harus di lakukan untuk menyempurnakan proses merokok.
Dalam mencinta pun saya mencoba melakukan yang serupa, yakni saya harus tau waktu kapan saatnya saya nempel sama dia dan kapan saatnya saya mengambil jarak dengan dia. Karena cinta juga membutuhkan jarak yang tepat agar terus tumbuh dan berkembang.



Mungkin itu saja yang bisa saya curcolkan, sebenarnya masih banyak lagi cara aku mencinta dengan cara merokok. Namun seperti yang saya ucapkan di awal, tulisan ini tidak penting dan dikerjakan dalam kondisi kegalauan semata....

0 komentar: