Ketika Rumus Dunia Mulai Berlaku



Kutahu Rumus DuniaSemua Harus BerpisahTetapi kumohon tangguhkan-tangguhkanlah

Tak menyangka 4 tahun sudah waktu yang berlalu ketika Saya, Farhan, dan Zaeni menyanyikan lagu kehilanganya Rhoma Irama di atas Pangung perpisahan SMP dengan berduet bersama Bu Lopiyah dan diabadikan oleh Sopyan.
Yah menuntut ilmu bukan hanya mencari ilmu belaka, di dalam menuntut ilmu kita sama-sama berjuang dengan manusia-manusia lainya dari latar belakang yang berbeda, pemikiran yang beda hingga budaya yang berbeda.
Dari pertemuan manusia-manusia tersebut terciptalah suatu masyarakat sekolah yang kemudian didalamnya terdapat kelompok-kelompok yang lebih kecil yang kesemuanya saling berkesinambungan.
Namun sesuai rumus dunia, semua yang bertemu pasti akan berpisah. Dalam masyarakat sekolah, setidaknya saya telah mengalami 3 kali perpisahan. Pertama perpisahan dengan teman sekolah TPQ, lalu SD, kemudian SMP.
Dalam perpisahan tersebut tentu ada hal-hal yang sangat membuat hati tergores, teriris hingga sedih yang berkepanjangan berharap waktu-waktu bersama mereka dapat terulang kembali.
Namun di saat kenangan-kenangan tersebut masih sakit menggerogoti hati, saya harus menerima kenyataan pahit, Rumus dunia kembali berlaku, yang bertemu akan berpisah. 
Jalan pendidikan saya di bangku SMK sudah mencapai batas waktu, dalam hitungan minggu Ujian Nasional akan dihadapi, yang tandanya waktu perpisahan semakin dekat.
UN, UAS, UKK atau berbagai macam ujian lainya mungkin momok yang menakutkan, namun bagi saya justru perpisahan inilah yang paling menakutkan. Di sekolah ini saya temukan hal-hal unik yang mungkin tidak dapat saya temukan di kehidupan yang akan datang.
Akhir-akhir ini saya mencoba mengelabui waktu, sedikit tidur banyak bermain dan menghabiskan waktu dengan teman-teman sekolah. Saya tak ingin waktu yang tinggal sedikit ini justru tak dapat saya manfaatkan.
Mungkin bagi sebagian orang akan mencap saya orang yang terlalu lebay dan mendramatisir keadaan. Biarlah mereka mengatakan seperti itu, mereka tidak pernah merasakan kehilangan yang begitu mendalam. Kehilangan seorang sahabat, seorang teman curhat, teman kelas atau setidaknya teman seperjuangan menuntut ilmu yang dampaknya dapat meluas pada kehidupan pribadi.
Bagaimana saya teringgat saya begitu kehilangan Abdul Kodir, Abdul Wahab, Aliyasa, Ali Sodikin dan beberapa teman sekolah TPQ saya. Mereka-mereka yang rata-rata lebih tua dari saya mengajarkan hal-hal yang banyak berguna bagi saya hingga sekarang.
Bagaimana saya teringat begitu rindunya saya ketika sulitnya menghubungi Try Hone (Sopyan dan Syeh), GWB (Gerombolan Wanita Bajingan), Riswoyo, Giu, Somad, Shobirin, Zaini dan banyak lagi teman SD saya yang dulu pernah bersama cukup lama, 6 Tahun broo, 6 Tahun....
Belum lagi saya harus merasakan pahitnya terpecah belah dengan AN3NI (Farhan, Sopyan dan Zaeni), atau tak pernah bisa berkumpul kembali dengan Kondom (komunitas anak didik durokhim) dan juga teman SMP lainya seperti Tommy, Nur Harun, Beby, Kiky dan orang-orang yang banyak mengajarkan saya tentang sekolah tak sekedar baca buku, tapi bergaul.
Lalu apakah saya akan sanggup menghadapi rumus dunia ini ? apa sanggup berpisah dengan anak-anak TKJ yang kritisnya minta ampun, atau anak Rohis yang rame banget, belum lagi anak-anak jurusan lain yang sebenarnya saya tak kenal namun mereka sering kali tegur sapa atau tidak kita seringkali beradu futsal di lapangan belakang.
Sanggup atau tak sanggup, siap atau tak siap rumus dunia harus tetap berjalan. Kita sebagai manusia alangkah baiknya selalu bersyukur dan mengambil pelajaran dari semua ini.
Jalan masih panjang, mungkin hari esok kita kan bertemu sebagai kita yang lebih baik....

0 komentar: