Teman Ahok yang Mendongak dan Haters Ahok yang Monoton



Pilgub DKI masih sekitar satu tahun lagi, namun hingar binggar kampenye sudah tersebar di segala penjuru, yang hebatnya bukan hanya penjuru Jakarta saja, namun seluruh Indonesia merasa berhak membicarakan Pilgub DKI.

Seluruh masyarakat Indonesia yang sedang dimabok Pilgub DKI Jakarta saat ini sedang mengalami perang urat maya. Namun anehnya bukan jago-jagoan antara jagoan mereka yang mereka bicarakan. Mereka hanya membicarakan satu orang, dimana satu kubu mengaku mendukung dia dan kubu lainya membenci dia, dia disini tidak bukan adalah Calon Petahanan, AHOK.

Para pendukung Ahok menamakan diri mereka sebagai Teman Ahok. Mereka angkuh, sombong dan terlalu mendongak, persis tuanya. Mereka terlihat sangat gembira ketika Ahok maju sebagai Independen, terlihat kepongahan mereka dengan membanggakan status Independen. Mereka tertawa saat Ahok berstatmen yang membuat nama Parpol ambrol yang nyatanya memang sudah lama ambrol. Mereka lupa, bahwa tanpa Parpol, mereka takan mengenal Ahok, tanpa Parpol pula Ahok bukan apa-apa.

Mereka nampaknya hanya memandang setengah kaca saja. Mereka memandang Jakarta bakal ancur kalo gak di pegang Ahok, Jakarta lebih baik jika di pegang Ahok. Padahal banyak sekali program-program yang merugikan masyakat kelas menengah kebawah, seperti penggusuran contohnya ?

Kesombongan-kesombongan mereka saya nilai terlalu berlebihan dan tak sadar diri, apa mereka gak mikir gitu yah, jika Parpol yang dulu pernah menjadi tunggangan Ahok saja dibikin buruk namanya, lalu siapa yang bisa menjamin kedepanya Ahok tidak akan membuat nama Teman Ahok ambrol ?

Disisi lain ada orang-orang yang sangat benci Ahok, saking bencinya sama Ahok, Ahok napaspun pasti dibenci. Saya sebut orang-orang ini sebagai Haters Ahok.

Haters Ahok berasal dari berbagai kalangan, dari kalangan yang dulu hatersnya Pak Jokowi waktu Pilgub yang lalu, sampai kader-kader Parpolpun ikut-ikutan jadi Hatersnya Ahok.

Sejak Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta, Haters Ahok sangat gencar melakukan serangan-serangan yang bertujuan merusak nama Ahok. Namun sayangnya, para Haters ini gak kreatif babar blas, selalu menyerang Ahok dengan itu-itu saja. Kalo gak soal agama yah soal prilaku kalo gak yah agama kalo gak yah prilaku, udah muter-muter gitu aja, monoton.

Dalam haters-hatersan, sudah jadi hal lumrah jika Haters akan mencari segala bentuk kesalahan orang yang dibencinya. Namun Haters Ahok ini terlalu monoton, lah dari tahun ke tahun yang dibahas agamanya Ahok mulu, mbok yah kreatif napa ?

Saking monotonya hatersnya Ahok yang membahas iman iman iman mulu, siapapun anda asal Haters Ahok, maka anda akan menjadi auto Syariah, Orang Sholeh dan Penegak hukum Allah.

Padahal jika kita mau menilik kinerja Ahok, banyak juga hal-hal yang bisa di kritisi, misal penggusuran Kalijodo yang katanya Jalur Hijau, namun Mall Taman Anggrek yang makan begitu banyak jalur Hijau di biarkan berdiri megah. Reklamasi teluk Jakarta yang membuat nelayan Jakarta semakin punah, atau apalah yang bisa jadi bahan menjatuhkan Ahok gitu, jangan monoton yang dibahas agama mulu, udah gak laku sekarang jualan agama atuh.

Lagipula justru dengan meluaskan tema menjatuhkan Ahok, makin banyak kalangan yang bisa di rekrut, bukan cuma kalangan berjenggot dan celana cingkrang saja yang bisa jadi Hatersnya Ahok.

Sebenarnya saya bukan termasuk Teman Ahok atau Haters Ahok, saya hanya ingin agar Teman Ahok maupun Haters Ahok lebih berlogika dalam mendukung atau menyerang Ahok.

Dalam berdemokrasi sah-sah saja kita saling dukung dan saling serang, namun yang tidak boleh adalah dengan mendukung dan menyerang secara membabi buta.

Jika mengutip tweet dari Sudjiwotedjo, Demokrasi itu membabi melek, bukan membabi buta...


0 komentar: