DPR yang Salah atau Kita yang Iri ?



Ditengah-tengah berita media tentang "PKI Gaya Baru" beserta pemberangusan buku-buku beraliran kiri oleh pihak-pihak yang ingin eksis dengan caper membenci Palu Arit, munculah berita tentang KUNKER (Kunjungan Kerja) fiktif yang dilakukan para anggota Dewan.

Kabar-kabarinya, para Anggota DPR menghabiskan anggaran yang berpotensi merugikan Negara senilai 900 Milyar Rupiah karena kunjungan kerja fiktif atau dibuat-buat oleh para anggota Dewan.

Masyarakat mencemoh sana-sini sikap para Anggota DPR tersebut, bahkan tak sedikit dari mereka yang ilon-ilon Gus Dur untuk membubarkan DPR yang dianggap sebagai Taman Kanak-Kanak belaka.

Oke saya setuju bahwa DPR itu macam taman kanak-kanak. Dan dalam Taman kanak-kanak tersebut menghasilkan banyak kebahagiaan. Dari pemilik yayasan, guru pengajar, murid, wali murid, bahkan hingga tukang jualan otak-otak di depan taman kanak-kanakpun ikut bahagia. Kalau anda tak suka taman kanak-kanak, mungkin anda tidak terlibat dalam lingkungan taman kanak-kanak tersebut ?

Mengenai kunker anggota DPR yang katanya fiktif, cobalah anda semua yang geram atas hal tersebut memposisikan diri sebagai Anggota DPR. Anggota DPR yang selalu anda salahkan, selalu anda cemoh.

Bayangkan, ketika anggota DPR melakukan Kunker beneran, anda-anda semua protes, bilangnya pemborosan dsb. Sedangkan jika tokoh politik favorit anda melakukan kunker beneran, anda bilang itu kerja nyata.

Sekarang anggota DPR kunker fiktif, anda marah-marah lagi, kalau anggota DPR nggak ngapa-ngapain, bilangnya gak kerja, lalu harus bagaimana ?

Bayangkan juga jika anda menjadi anggota DPR, dengan proyek-proyek besar yang dikelilingi oleh banyak uang, dapatkah anda menahan untuk tak memperoleh keuntungan dari semua itu ?

Sekarang renungkanlah, sejatinya setiap orang dapat melakukan Korupsi atau pemanfaatan uang negara untuk pribadi, namun yang punya kesempatan itu sedikit, dan yang tak punya kesempatan seperti anda akhirnya cuma nyinyir sambil memendam rasa iri di dada.


Sumber Gambar

0 komentar: