Sebenarnya Kita Membela Siapa ?


Sebagai sesama pebisnis Warung Tegal atau WARTEG, rasanya akan tidak etis jika saya tidak ikut berkomentar tentang 'kasus' yang 'meninmpa' Bu Saeni yang warungnya di gerebek Satpol PP, karena dinilai melanggar jam buka warung makan di waktu Ramadan.

Kabarnya eh kabarnya, setelah warungnya di santroni petugas Satpol PP dan beritanya beredar luas di dunia maya, para pegiat dunia maya atau biasa disebut Netizen langsung bereaksi.
Bagi yang berduit, mereka langsung mengumpulkan uang bantuan tanda pedulu kepada Bu Saeni yang kabarnya ampe ratusan juta. Sedangkan bagi yang tidak berduit tetap menyuarakan kebebasan-kebebasan bagi penjual makanan untuk buka pada bulan Ramadan.

Jagat Per-Netizenan semakin ramai setelah muncul kelompok tandingan yang berisi dede-dede Tarjiah, dan orang-orang Islam Ngehek yang justru mendukung penutupun warung makan saat puasa.

Dunia mayapun tetap panas meski bulan Ramadan, menggunjing, menjatuhkan, dan hal-hal yang terasa kurang pantas dilakukan di bulan suci tetap saja dilakukan, karena gak ada dalilnya menggunjing lewat medsos itu membatalkan puasa hehehe.

Namun semakin dilihat-lihat, kayanya pergunjingan semakin gak sehat dan konteksnya jadi melebar kemana-mana.

Yang Pro dengan bukanya warung makan langsung menghujat atas nama kebebasan, demokrasi, Islam yang tidak cengeng dan lain sebagaianya.
Namun nyatanya hal-hal yang disuarakan mereka hanya sekedar hingar-bingar kebebasan semu tanpa bukti kongkrit.

Contohnya, mereka-mereka ini yang sok-sokan nyumbang duit ke Bu Saeni, kemana aja saat pedagang-pedagang seperti Bu Saeni ini berjualan di luar bulan puasa ? apa mereka sering makan di warteg ?
Rata-rata usia Netizen itu usia muda dan berbanding terbalik dengan rata-rata usia pelanggan warteg.

Jadi peduli atas nasib rakyat miskin macam Bu Saeni itu cuma omong kosong, makan di warteg aja gengsi, sekali makan di warteg, lauknya ayam bilanngnya telor, kan ngehek.

Mau bilang dalam beribadah jangan cengeng ? Alah... situ juga telat sahur, pagi-pagi langsung nge-Badog, apalagi nyium bumbu masakan warteg yang sedapnya tiada tara di tengah hari bolong.

Dan buat dede-dede yang sok-sokan dukung warung makan di tutup pas puasa, merasa jadi pembela Tuhan menegakan ajaran Islam yang Syari.
Harusnya kalian harus banyakin lagi ngaji, Ngaji disini selain Mengkaji, juga harus meNGAjar JIwa.

Saya tau untuk urusan mengkaji kitab antum-antum semua ahlinya, bisa apasih Jomblo militan kaya saya ? Baca Qur'an aja masih mencla-mencle apalagi mengkajinya.

Namun selain Mengkaji kitab tertulis, kalian harus juga mengkaji kitab-kitab yang tidak tertulis, kita harus bisa lihat sekitar.

Maksudnya gini, Indonesia itu negara penghasil sinetron yang topcer, ratingnya selalu di atas. Dan kalian juga tau kan kualitas sinetron kita kaya apa ?
Nah mana bisa mental bangsa-bangsa pecinta sinetron bobrok dipaksakan puasa tanpa buka diem-diem di warung nasi ?

Lantas kalian mau bilang 'justru itu kami mencoba memperbaiki mental bangsa dengan melarang warung makan buka saat puasa'
Gendeng !!! wong namanya dah mental yo gak bisa dirubah serampangan gitu aja, mungkin cuma orang-orang pengikut Baghdadi aja yang bisa di doktrin macam itu.

Jadi kalian harus dapat mengkaji tinggal di suatu lingkungan yang hegemoninya seperti apa ? minat bacanya seperti apa ? jumlah jomblonya ada berapa ? kalian patut mengkaji itu

Dan jangan lupa kalian harus banyak NGAjar JIwa, biar gak mudah panasan. Gak mudah keluarkan dalil untuk melegitimasi tindakan kalian.


Cukup sekian tulisan dari saya, sebelumnya izinkan saya ngenyek kalian sekali lagi

Kita pontang-panting kerja, sekolah dan beribadah mengaku bertemu Tuhan, namun Tuhan di kanan-kiri kita tidak pernah dipedulikan, mereka kadang sakit, kadang susah untuk makan, namun kita tak peduli dengan Tuhan-Tuhan itu, kita lantang teriak membela Tuhan namun kita meninggalkan Tuhan.
Kita asik menghujat membawa nama Tuhan, namun Tuhan-Tuhan sekitar kita dilupakan.

Tuhan yang saya maksud adalah Tuhan-Tuhan yang bersama orang sakit, orang-orang susah, orang-orang lemah, orang kalah dan terkalahkan.
Tuhan-Tuhan itulah yang sering kita lupakan, karena kita terlalu sibuk membela Tuhan dalam diri, bahkan mungkin Tuhan dalam diri kita tidak merasa terbela
Jadi sebenarnya kita membela siapa ?



 

0 komentar: