Usai Lebaran Mari Bermusuhan



Selamat berlebaran bagi pembaca setia yang emang sering liat blog saya karena terpaksa maupun karena tersesat.
Sesuai dengan adat ke-Indonesiaan, saya selaku pengoprek blog yang makin hari makin gak karuan ini meminta maaf yang sebesar-besarnya.
Sebagaimana blog sesat lainya, sudah barang pasti blog ini menyakiti beberapa pembaca. Oleh sebab itu saya mengakui kesalahan saya sebagai kesalahan yang saya sengaja yang bertujuan agar pembaca tidak kagetan. Tidak kagetan jika suatu saat melihat orang abstrak seperti saya.

Pembukaan tadi bukan hanya bertujuan mengikuti adat istiadat negri kita. Namun pembukaan tadi bertujuan untuk membersihkan salah-salah saya yang lalu dan membuka kesempatan untuk berbuat salah-salah yang lain.

Loh kenapa ? anda tidak terima jika saya akan kembali nyrocos ngomentari kegilaan dunia ini, yang gilanya lebih gila daripada saya ?

Perlu di ketahui, saya begini cuma ngikutin trend.

Trend bermusuhan setelah lebaran sejatinya telah berlangsung sejak lama, karena memang untuk bermusuhan, kita tidak perlu waktu yang tepat, kapanpun dan dimanapun kita bisa bermusuhan dengan siapapun.

Namun untuk tahun ini, permusuhan terjadi lebih viral, dikarenakan permusuhan yang dulu segan untuk dikeluarkan, kini dapat dengan mudah kita utarakan melalui dunia virtual atau lebih enak disebut dengan dunia maya.

Lebaran tahun ini tidak salah jika saya mengangkat Jonru sebagai bapak permusuhan kita.
Karena berkat beliau inilah, suatu barang yang biasanya dihindari, dijauhi dan di cap bau bisa jadi sumber peperangan di media sosial ini.
Kaus kaki Presiden Jokowi nampaknya akan menjadi kaus kaki pertama -mungkin satu-satunya- yang dapat membuat keriweuwhan jagad dunia maya.

Jonru dengan ngeheknya melakukan awal permusuhan yang baik. Berkat dia, pengikut setianya harus berhadapan dengan para Jokowers, para liberalis sepilis dan Antek Asing/Aseng.

Saya yang tukang komenpun ikut gatel untuk sedikit nimbrung dalam area pertempuran. Namun ternyata permusuhan yang di buat Kak Jonru itu hanya permusuhan kelas teri yang ujung-ujungnya keluar dari topik pembahasan. Oleh karena itulah, saya keluar dari pertempuran yang kurang greget itu.

Lalu permusuhan berikutnya berkat permainan yang lagi ngetrend di saentero jagad per-game-an. Bukan salah lagi permainan tersebut adalah Pokemon GO.

Setelah diwaspadai berbagai negara, game yang menggunakan teknologi Augmanted Reality (AR) itupun jadi bahan permusuhan di indonesia ini.

Jika perdebatan tentang boleh-tidaknya Pokemon go dimainkan di suatu negara itu berlandaskan Politik, Ekonomi dan Faktor kerahasiaan negara, di Indonesia beda.
Indonesia sebagai negara yang paling agamis ini, mengkaitkan Pokemon Go dengan hal-hal yang berbau kafir. Dengan ilmu cocoklogi para kaum Islam-Islam Ngehek, sebenarnya mudah saja untuk mematahkan argumen-argumen ke-ngehekan mereka yang sebenarnya menyimpang dari akal sehat.

Namun yah namanya abis lebaran, paling enak buat musuhan. Alih-alih untuk membenarkan para kaum Islam ngehek, para Netizen lainya justru ikut-ikutan ngehek dengan melawan dengan cara ngehek pula.

Permusuhan kedua inipun terbilang belum levelnya saya buat memasuki area pertandingan. Lah iyah mana mungkin saya masuk kepertandingan kelas ngehek ? sepandai apapun saya berargumen, di mata orang ngehek, saya itu ngehek. huuu dasar ngehek.

Setelah kedua hal tersebut, yang memang benar-benar topik yang menyentuh langsung para penghuni negri ini, permusuhan ketiga muncul.
Kali ini, nampaknya kedua pertarungan di atas dijadikan satu.

Pertarungan ini meributkan tentang si Presiden Turki yang kemaren gagal di kudeta hati. 
Presiden yang begitu di elu-elukan oleh para Jonru lovers dan Islam-Islam ngehek ini mendapat simpati yang luar biasa setelah gagalnya kudeta atas diri beliau.
Mendadak laman facebook saya banjir pujian kepada kepala negaranya Al-Fatih itu. Dari yang sekedar memuji biasa hingga memuji dengan menyebutkan seluruh pahala-pahala Erdogan.
Dengan detail mereka menulis (dengan copy paste) keberhasilan-keberhasilan sang Presiden. Hingga akhirnya di share sana-sini oleh mereka sang pemuja Erdogan.

Lalu munculah para pembenci Erdogan yang menganggap jika Erdogan hanyalah penipu ulung yang memerankan skenario kudeta dengan baik. Para pembenci Erdogan tak kalah canggihnya menuliskan data-data dosa Erdogan, dari pembungkaman pers hingga terlibatnya beliau sebagai salah satu tokoh dibalik carut-marut Suriah.

Kali ini akupun hanya sedikit memasuki area permusuhan, bukan karena permusuhan ini kelas kroco, tapi Ilmuku yang belum nyampe.
Yaiyalah, aku ini boro-boro ke Turki, punya temen orang Turki aja kaga, mana tau saya sama kinerja Erdogan.

Mereka-mereka para pemuja dan pembenci Erdogan toh juga sebenarnya mana tau, merekan cuma copy paste dari media-media kebanggan mereka. Saya sih bukanya gak percaya dengan media-media tersebut. Wong namanya politik itu gak bisa dibaca ini jahat, ini baik, semua tergantung siapa yang menilai, semakin dekat penilai dengan yang dinilai, yah makin bagus penilaianya, gitu aja ko repot.

Nampaknya saya harus mencari masalah yang sesuai dengan karakter dan kriteria saya, jika tidak maka saya akan terkalahkan oleh mereka yang bermusuhan setelah lebaran.

Tapi saran saya sih kalo bikin masalah jangan mengadu domba yang sudah teradu, adulah domba-domba lainya yang satu koloni. Kaya misalnya, adu tuh para Ahokers dan Jokowers yang biasanya mesra dengan Topik orang tua antar anak sekolah, kan itu lebih seru.

Bermaaf-maafan setelah lebaran itu masalah hati, jika hanya raga atau teks belaka yang saling memaafkan, justru itu menimbulkan dendam baru.

Tapi karena kita masih besih suci, apa salahnya kita bermusahan kembali setelah lebaran.
Yuk Musuhan...




0 komentar: