Kemerdekaan Hakiki, dan Pledoi Kaum Jomblo



Hingar-bingar hari kemerdekaan telah terasa di sebagian tempat di bumi Nusantara. Bendera-benera, hiasan-hiasan dan ornamen-ornamen yang berbau merah putih banyak bergentayangan di sekitar kita.

Perayaan kemerdekaan jadi penting adanya untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan cinta kemerdekaan. Yah meskipun bisa di bilang kemerdekaan yang kita rasakan saat ini bukanlah kemerdekaan hakiki.


Kenapa kita belum merdeka secara hakiki ?


Bagaimana mungkin kita merdeka secara hakiki jika kita masih sulit untuk beribadah ? kita masih sulit untuk bersekolah ? masih sulit untuk mendapat hidup yang layak ?


Namun sejatinya bukan kalangan menengah kebawah sajalah yang belum merasakan kemerdekaan hakiki. Dari kalangan ataspun demikian.


Dari kalangan elit politik di eksekutif misalnya, di tingkat Provinsi ada Pak Ahok.

Lah ko Pak Ahok ? Bukanya dia manusia paling merdeka ? bisa loncati partai kangkangi teman Ahok ?

Mungkin jika dilihat sekilas itu demikian, namun ternyata keputusan Pak Ahok untuk maju jadi cagub lewat partai adalah langkah penurunan jiwa merdeka terhadap dirimya.

Setanpa syarat apapun, parpol tetaplah parpol yang pastinya mengambil keuntungan dari Pak Ahok. Dan kemerdekaan hakiki tidak dapat di peroleh oleh orang yang masih dimanfaatkan orang lain.

Dan tak hanya pak Ahok, di tingkat Nasionalpun Mas Jokowi bukanlah manusia yang merdeka secara hakiki. Kenapa ? Saya tak mau menjalskan panjang-panjang, saya kasih dua kata kunci, yang pertama Reshufle dan yang kedua Mbak Puan.

Sudah tau kenapa Mas Jokowi tidak bisa di sebut manusia yang merdeka hakiki ?.

Siapa lagi yang menurut anda manusia merdeka secara hakiki ?

Jonru ? Jauh atuh...


Lalu siapa manusia merdeka hakiki itu ?

JOMBLO !!!!

Yah Jomblo adalah contoh nyata kemerdekan hakiki.

Ketika Pak Ahok bingung pilih lewat parpol atau independen, Jomblo gak bingung pilih siapa-siapa karena memang gak ada yang harus di pilih toh ?

Ketika Pak Jokowi bingung mau buang Puan atau tidak ? Jomblo bebas karena memang gak ada yang harus di buang.

Tapi anehnya banyak orang yang tingkat kemerdekaanya jauh di bawah Jomblo, namun suka ngenyek Jomblo.

Contohnya tentang fullday schol, atau sekolah sehari penuh yang di canangkan mentri baru Pak Muhajir.

Sekolah sehari penuh adalah suatu penghinaan besar terhadap Jomblo. Pasalnya, disamping belajar, seorang murid biasanya nyambi pacaran di sekolah. Dan itu akan menambah ruang gerak Jomblo.

Ini beneran terjadi loh pak, Pacaran yang kadang berlanjut hingga ke pergaulan bebas kebanyakan di mulai dari dalam sekolah. Bahkan hal ini tidak saja terjadi kepada murid, namun sadisnya bisa terjadi pada guru yang mengakibatkan perselingkuhan.

Jika tujuanya anak lebih aman di dalam sekolah jelas itu tidak relevan melihat fakta di lapangan. Lagian juga jika mau di terapin yah di kota-kota besar saja, karena memang kota-kota kecil di daerah tidak butuh sekolah full di dalam gedung sekolah, karena anak daerah biasa sekolah di sawah membantu emak-bapak, di laut nyari ikan atau hal-hal edukasi yang memang udah jadi kegiatan anak desa. Jadi jangan di samaratakam, karena hegemoni kehidupan kota dan desa memang berbeda.

Selain itu ada lagi yang menurut saya sangat menghina Jomblo. Yaitu tentang gembar-gembor nikah muda.

Setelah anak seorang ustadz yang nikah mudah itu terjadi, maka tak pernah berhenti status-status di Beranda facebook saya dari dede-dede gemes yang betapa takjub sama orang yang nikah muda.

Padahal toh nikah muda yah gak hebat-hebat amat. Buyutku nikah umur 12 Tahun aku toh gak bangga. Kakeku nikah umur 15 Tahun ko aku biasa aja, mamahku juga nikah umur 18 Tahun ko gak ada yang heboh ?

Ketika nikah muda dipandang lebih bertanggung jawab daripada pacaran itu sih saya tak peduli. Namun ketika nikah muda di cap lebih baik daripada memilih menjomblo, saya akan berada di barisan paling ujung (ujung depan loh) membela Jomblo.

Jika para dede-dede gemes menilai Jomblo itu manusia lemah tidak berani berkomitmen. Jangan salahkan jika suatu saat salah satu jomblo menghampiri rumah si dede untuk mengajak dede menikah, sampai jawab belum siapmah terlalu....

Jomblo itu pilihan hidup yang memang harus di pilih, nikah muda bukanlah sesuatu yang mulia-mulia banget seperti yang di gaungkan.

Lalu bagaimana dengan Ibnu Thaimiyah, Imam Nawawi dll yang memilih menjomblo hingga mati untuk kepentingan keilmuan untuk orang banyak ?

Atau dengan Moh Hatta yang baru menikah di usia 43 Tahun ? dengan Tekad Jomblonya beliau berikrar "saya akan terus menjomblo sebelum bangsa ini merdeka" -pengeditan kata sengaja saya lakukan untuk menambah heroik-

Jadi kerenan mana Jomblo ama Nikah muda ah ?



Tulisan ini bukan sekedar Pledoi untuk kaum Jomblo, tapi ini Tulisan yang akan mengantarkan kita menjadi manusia yang merdeka secara hakiki, secara sebenar-benarnya yaitu dengan cara menjadi JOMBLO


H I D U P   J O M B L O ! ! !
M E R D E K A  ! ! !

0 komentar: