Berbuat Baik Seperti Merokok


Banyak teman-teman yang pengin saya nulis tentang sikap saya terkait masalah Ahok, Pilgub DKI dan sejenisnya. Namun saya rasa, tulisan-tulisan berbau seperti itu sudah banyak dan lama kelamaan bikin muak saja.

Oleh karena itu kemarin saya lebih memilih nulis tentang cinta-cintaan, meskipun diri ini kering cinta. eyalahh curhat..

Kali ini saya ingin menuliskan jawaban atas pertanyaan - pertanyan teman-teman saya yang kurang lebih pertanyaanya begini "kenapa sih kamu sering kali di sakiti, entah dalam cinta-cintaan, persahabatan atau lainya tapi tetap aja masih baik ama orang-orang yang udah jahatin"

Sebenernya saya juga sering bingung jawabnya kalau di tanya pertanyaan demikian, wong saya sejujurnya enggak merasa pernah di jahatin atau di sakitin gitulah. Tapi demi memuaskan sang penanya, sayapun coba memberi alasan mengapa kita harus selalu berbuat baik meskipun kepada orang yang men-jahati kita.

1. Setiap Manusia itu Baik
Yah saya selalu beranggapan setiap manusia itu baik. Yah mana ada sih orang yang dengan sengaja berbuat jahat terhadap manusia lain ?

Anda atau kita mungkin pernah tersakiti dalam bercinta, kita telah berbuat semaksimal mungkin, tapi si doi justru mendua, mentiga atau meninggalkan kita. Kejam memang jika kita lihat dari sudut pandang kita. Namun cobalah kita perhatikan hukum Newton 3, Karmapala dan ujaran ada asap ada api, mungkin kita dapat mengerti.

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti kita pastilah sangat memiliki alasan kuat mengapa mereka berbuat demikian. Bukan hanya soal cinta-cintaan. Dalam persahabatan, pergaulan dan dunia politikpun demikian, karena segala keputusan takan bisa menghadirkan senyum untuk semua.

Karena setiap manusia itu baik, maka sudah sepatutnya kita berbuat baik kepada siapapun.

2. Hukum Timbal Balik
Saya selalu percaya hukum timbal balik, apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai, begitu kata orang bijak.

Dengan kita berbuat baik kepada siapapun, termasuk kepada orang yang pernah jahatin kita, saya yakin kita akan di perlakukan baik oleh orang lain.

"Ah tetep aja, mau lakuin hal baik kepada siapapun juga gak ada balasanya" mungkin benak kita sering berfikir begitu kan ?

Namun terkadang, bukan orang lain yang tak pernah berbuat baik kepada kita, justru kitanyalah yang sulit menerima dan merasakan hal-hal baik yang di berikan orang lain.

3. Perintah Agama
Ini alasan paling klasik namun sulit di tentang, karena ini sudah terdoktrinisasi oleh para kaum beragama.

Dalam setiap agama apapun, kita selalu di ajarkan untuk selalu berbuat baik. Dalam Islam sendiri selalu mengumandangkan Rahmat selalu alam, bukan rahmat terhadap orang baik saja. Di dalam injil juga terdapat perintah filosofi 'jika ada yang menampar pipi kananmu, berilah pipi kirimu'. Begitupun agama-agama lainya pasti menyeru untuk selalu berbuat kebaikan.



Dari ketiga alasan tersebut sebenarnya tidak ada yang mendasari diri saya untuk berbuat baik meskipun terhadap orang yang pernah menjahati saya.

"lalu atas dasar apa kamu berbuat baik ?" tanya temanku kembali. Lalu aku melanjutkan... "Aku ini seorang perokok, maka aku harus berbuat baik layaknya seorang perokok"

Masih bingung ?
Jadi gini, apakah seorang perokok tau bahaya merokok ? tentu saja tau. Lalu apakah perokok akan berhenti ? tentu saja tidak. Karena perokok yah merokok saja tanpa memikirkan akibat ini dan itu, karena perokok hanya melihat sisi nikmat dari rokok.

Sama seperti berbuat baik, berbuat baik yah berbuat baik saja, tidak peduli balasanya seperti apa, tidak peduli berbuat baik ke siapa, yang saya ambil itu kenikmatan tersendiri dalam berbuat baik.

Namun sebaik-baiknya berbuat baik adalah berbuat baik yang tidak kita sadari, karena kita tidak terbebani dari rasa berjasa.

0 komentar: