Percayalah ! Kita Semua Sama


"Kenapa sih setiap gue jatuh cinta selalu berakhir miris ?" Tanya temanku suatu malam di tengah-tengah obrolan warung kopi.

Pertanyaan klise temanku tadi sejujurnya pernah terlintas dalam pikiranku juga, termasuk pikiran kalian juga pasti pernah menanyakanaya.

Selalu menyedihkan ? yah itulah yang saya rasakan. Saya berulang kali diputusin tanpa sebab yang jelas, hingga diputusin karena dia lebih memilih lelaki lain.. brengsek.

Bukan hanya setelah jadian, saat proses mbribikanpun rasanya tidak jauh beda. Saya pernah merasakan Kaka-Ade Zone begitu lama, Friendzone yang tiada henti hingga berujung harapan-harapan palsu yang masih membekas hingga kini.

Tuhan tak pernah adil. Begitulah dalam benaku waktu itu, ihatlah mereka yang dengan penuh kebahagaiaan dalam berscinta. Menggunakan cinta layaknya hiburan belaka. Lah kita ? 

Yah bandingkan saja dengan kita para pengemis asmara. Yang siap melakukan apa saja demi memenangkan hati si doi. Rela berubah menjadi seorang pelawak ketika doi butuh hiburan. Rela berubah jadi Mario Teguh ketika doi butuh motivasi bahkan rela jadi abang ojeknya ketika doi butuh tumpangan. Dan atas semua yang telah kita lakukan, ehh ternyata doi kabur kepelukan si Brengsek, kan Jancukkk. Yah saya tau sakit memang, hati sakit, kepala sakit, dan dompet apalagi.

Tapi setelah saya pikir-pikir, memang itulah rulesnya cinta. Tak ada orang yang tak pernah sakit karena cinta. Bagaimana perjuangan-perjuangan manusia untuk memperoleh cinta yang menyenangkan itu sejatinya sudah sering di buat cerita atau film. Dan semuanya sama, pasti mengalami sakitnya cinta.

Percayalah ! Kita semua sama. Kita pernah merasakan jatuh cinta dan merasakan cintanya jatuh. Kini waktunya kita berdamai dengan keadaan. Meski rasa sakit takan pernah bisa kita elakan.

Toh jika di pikir-pikir, sakitnya cinta di masa lalu membuat kita senyam-senyum sendiri kalo ngingetnya. Yah meskipun senyum getir yang terkembang

0 komentar: