Aku dan Ad Hominem

http://www.quickmeme.com/meme/3oxkfp

Debat... Debat... dan baru saja kita saksikan debat kedua Pilkada DKI Jakarta. Materi yang membosankan serta Ad hominem adalah hal yang sudah di duga-duga bakal ada di dalam debat.

Bicara Ad Hominem atau menyerang pribadi seseorang menurut saya adalah sifat yang kekanak-kanakan. Ketika materi yang disajikan tidak dapat kita lahap, kita justru sibuk menyerang pribadi lawan kita yang justru tidak ada kaitanya dengan materi debat.

Jokowi, Ahok, Prabowo, SBY atau Bahkan Habib Rizieq terkena korban Ad hominem menurut saya. Mereka semua seringkali di ulik-ulik kepribadianya untuk di jelek-jelekan di muka umum, iyuhh ga banget dah.

Dari fakta tersebut, nampaknya Ad Hominem sangat mungkin terjadi menyerang orang-orang terkenal atau tokoh masyarakat. Melihat hal itu saya jadi males terkenal dan beberapa cita-cita saya harus saya fikirkan kembali.

Sebagai manusia yang penuh dosa dengan masa lalu, saya sangat takut sekali dengan Ad Hominem. Misalkan saya sedang debat masalah agama yang sejatinya tentang hal furu. Bisa saja lawan debat saya langsung mengungkit masa lalu saya sebagai pezinah, pemabuk dll. Apa daya bagi saya ? wong nyatanya memang fakta. Mau melawan bagaimana ? toh andaikata melawanpun, para hadirin akan berkurang kepercayaanya kepada saya dan tentu saja apa yang akan saya ucapkan tak berpengaruh.

Atau ketika saya berdebat tentang perbaikan ekonomi di berbagai bidang usaha. Lawan debat saya bisa saja melakukan Ad Hominem tentang masa lalu saya yang selalu gagal berbisnis, dari warung sembako, ayam bakar hingga penjual piscok, semuanya tidak ada yang berakhir manis. Kalau lawan saya sudah melakukan Ad Hominem macam itu, seberapa bagus data saya tentang ekonomi ini gak bakal di lirik sama sekali oleh hadirin penonton debat.

Atau saya sering juga koar-koar akan Islam yang ramah, Islam yang merangkul semua golongan, dari golongan apapun. Namun masa lalu saya ternyata gak seperti itu. Saya bahkan mengucap takbir di facebook saat ISIS terbentuk. Lalu apakah orang-orang akan percaya jika saya menawarkan Islam yang rahmah setelah saya di serang Ad hominem ? tentu tidak.

Sebagai kaum sosialis, saya merasa perlu adanya perbaikan moral, attitude dan pemberdayaan manusia melalui peningkatan SDM. Namun kata-kata tadi tiada gune ketika seorang lawan saya menyerang dengan Ad Hominem dan membeberkan fakta bahwa saya pernah tidak di perpanjang kontrak kerja karena atittudenya buruk.

Percayalah, Ad Hominem sangat jahat. Ketika kebusukan-kebusukanmu di buka lebar-lebar di khalayak umum untuk di konsumsi beramai-ramai tak peduli siapa sekarang dirimu, itu hal yang tidak adil.

Ayo bertarung cerdas, stop Ad Hominem....

0 komentar: