Review Pilgub DKI Ronde 1

Sumber Gambar : http://news.okezone.com/read/2016/12/29/338/1578063/jelang-pilgub-dki-tiga-kandidat-bakal-diadu-argumen-untuk-menata-ibu-kota


Oke setelah sekian lama enggak ngomongin politik di blog ini, saya akan kembali ngomongin politik, karena pilkada DKI telah usai. Yah meskipun belum usai-usai amat sih, karena di prediksi akan berlanjut pada putaran kedua.

Seperti yang kita ketahui,berdasarkan hasil hitung cepat berbagai macam survei. Ahok-Djarot unggul atas dua lawanya dengan presentase sekitar 42% suara. Sedangkan pasangan calon nomor urut tiga, Anies-Sandi memiliki suara terbanyak kedua dengan presentase sekitar 40%, dan dengan presentase sekitar 17% suara, Agus-Silvy hampir di pastikan terdepak dalam adu kuat pilgub DKI.

Oke ah gak usah panjang-panjang intronya, langsung kita review dengan gaya pikir ala Arya Iman Fatio.


MAJU UNTUK KALAH
Pencalonan diri seorang Agus Harimurti Yudhoyono mungkin awalnya mengagetkan saya, entah apa yang ada di benak koalisi cikeas ini hingga memunculkan satu nama yang tidak populer sama sekali, apakah koalisi ini, khususnya Pak SBY mau bunuh diri atau bagaimana ?

Dan hingga saat ini terbukti, meski hanya baru hitung cepat, namun hampir di pastikan calon yang di sokong cikeas ini hampir dipastikan tidak lolos ke putaran berikutnya.

Selain dari figurnya yang awam, banyak orang yang melihat kekalahan Agus ini karena kesalahan strategi dari SBY yang begitu aktif baik di depan kamera maupun di depan layar.

Namun menurut saya, Agus memang di calonkan untuk kalah, bukan untuk menang.

Jadi begini loh, SBY itu seorang politikus dari militer yang begitu tangguh. Dari era awal-awal reformasi, namanya cukup kuat di parlemen. Meski akhirnya gagal menjadi wakil presiden. Namun beliau tidak menyerah begitu saja, Pak SBY mendirikan partai Demokrat dan akhirnya dengan itu dia menjadi Presiden selama 2 periode sekaligus.

Melihat jabatanya yang tidak abadi, Pak SBY sudah mulai mendidik anaknya untuk berpolitik, siapa lagi kalau bukan iBas (inget " i - nya " harus pakai huruf kecil). Namun sayang, iBas yang digadang-gadang menjadi penerus Pak SBY, bunganya terlanjur layu sebelum berkembang.

Menganalisa hal tersebut, Pak SBY harus punya planing lainya. Akhirnya, ditariklah Agus dari militer ke politik. SBY paham betul, bahwa politik lebih menggiurkan dibanding militer, meskipun dunianya lebih keras juga.

Untuk meniti di dunia politik yang keras, membutuhkan latihan yang keras. Dan latihan pertama Agus adalah Pilgub DKI.

Pak SBY menurut saya tak terlalu berharap si Agus menjadi Gubernur DKI, justru ia ingin menjugkal balikan Agus disini. Buktinya, ketika elaktibilitas Agus sedang naik, si Pepo justru melakukan blundher-blundher dengan twittanya yang seharusnya tidak perlu. Dari sini SBY mengisyaratkan ingin mendidik Agus menjadi penerusnya dengan permulaan politik yang begitu keras hingga akhirnya Agus tersingkir, Pak SBY bertepuk tangan sambil berkata dalam hati "Dari rasa sakit inilah aku menciptakan penerus yang tangguh".



MEMBANTAH KLAIM AHOK (DAN PENDUKUNGNYA)
Dari awal Ahok udah gusur-gusur sebenarnya saya tidak suka, tapi yang paling saya tidak sukai lagi adalah klaim-klaim dari Ahok dan para pendukungnya yang mengatakan "korban" gusuran, eh relokasi kata mereka ding, itu hidupnya bahagia di rusun.

Katanya di rusun di kasih fasilitas ini dan itulah atau apa. Padahal beberapa fakta justru terbalik meski beberapa juga benar. Namun tetap saja, yang namanya bahagia atau tidak itu relatif, tidak dapat di ukur dengan dapat ini dan dapat itu.

Dan semuanya terjawab sudah ketika pemilihan gubernur kemarin. Dari tiga kawasan rusun korban gusuran Ahok, hanya satu kawasan rusun yang memenangkan Ahok, yakni Rusun Marunda. Sedangkan di rusun Jatinegara dan rusun Rawa Bebek, suara Ahok habis tergusur. Apakah dengan tidak memilih Ahok bisa diartikan mereka bahagia ? Ngawur...

Hal ini harusnya menjadi suatu pembelajaran buat siapa saja yang nantinya akan menjabat sebagai Gubernur DKI. Bahwa kita tidak bisa semena-mena dalam menjalankan kebijakan dan merasa sudah memberikan yang terbaik untuk rakyat. Padahalkan baik atau tidakkan itu hanya perspektif semata.

Jadi masih mau bilang kalau yang enggak setuju di gusur itu cuma orang cari sensasi ? Terus yang nggugat di pengadilan (dan akhirnya menang) itu sebenernya bukan korban gusuran ? Lalu masih mau bilang korban gusuran itu bahagia ? Jancuk tenan iku....


MAKIN LABIL MAKIN TINGGI
Sikap labil atau inkonsisten dalam nama-nama paslon Gubernur DKI, sebenarnya sangat melekat pada nama Ahok. Dari berpindah-pindah partai, sampai mau nyalon independen, jelek-jelekin parpol, dan pada akhirnya maju lewat parpol.

Namun bukanya makin hilang, sikap Ahok yang labil justru makin populer nama Ahok. Dan hal itu di ikuti oleh bapak Anies Baswedan.

Dengan meniti karir di politik sebagai peserta konvensi Presiden di Partai Demokrat, Anies justru akhirnya menjadi tim sukses Jokowi-JK hingga menjadi mentri pendidikan dan pada akhirnya di pecat lalu di sambet oleh Prabowo untuk menjadi cagub DKI.

Jika Ahok labil posisi, Anies labil ideologi. Ketika dia mengikuti Konvensi Demokrat, gaya pikirnya di buat se-Demokrat mungkin, dengan gaya Demokrat yang ke-SBY-SBYan, Anies mencitrakan diri sebagai seorang yang santun, tenang, dan bersahaja, percis SBY.

Lalu saat menjadi tim sukses Jokowi-JK. Si Pak Anies mencoba memposisikan dirinya sebagai seorang yang moderat, pekerja keras dan bahkan terkesan liberal. Sikap tenang ala konvensi Demokratnyapun sedikit demi sedikit musna, bahkan Anies mulai berani mengambil jarak dengan ormas-ormas Islam yang tidak moderat, meskipun pemimpinya sama-sama "Arab".

Dan kini kita lihat Anies, Anies yang dulu lebih menonjolkan ke-pendidikanya serta pemikiranya yang agak liberal, perlahan-lahan musnah begitu saja. Diganti dengan gaya Anies yang lebih Islami, bahkan merangkul ormas yang dulu ia nilai membahayakan.

Sama seperti Ahok, sikap berubah-ubah Anies justru membuat nama Anies semakin tinggi. Buktinya ia mendapat 40an persen suara. Dan bukan tidak mungkin Anies akan masih terus melabil, terus mengikuti arah angin berhembus.



Jangan di baca serius, ini cuma tulisan hasil renungan sambil tidur di atas motor yang sedang saya kendarai...
Wassalam... 

0 komentar: