Aku Bukan Petani Kendeng...

https://tirto.id/menuntut-jokowi-mendengarkan-ibu-bumi-petani-kendeng-clgP

Sebenarnya saya tidak terlalu mengerti kasus tentang perjuangan petani kendeng melawan PT Semen Indonesia, saya belum paham betul tentang hal ini, sehingga saya enggan untuk menuliskan ini.

Namun, rasa-rasanya, sesama orang kampung kok yah saya merasa gatel untuk ikut menyuarakan atau berpihak kepada petani kendeng. Yah kali ini saya mencoba berpihak, untuk hal ini, tidak ada kata netral bagi saya.

Kenapa saya kali ini berpihak ? kan saya bukan petani kendeng ? Tak ada yang gunanya saya berpihak ? 

Yang nanya seperti itu sama gebleknya sama orang yang nanya ke saya tentang kasus reklamasi yang saya tolak, mereka bertanya "kamu kan bukan nelayan, kok protes?"

Jadi gini loh, yang namanya hal-hal yang kaitanya dengan alam itu berakibat secara meluas, menggelobal dan tentunya suatu saat dampaknya akan saya rasakan.

Daerah pegunungan kapur utara itu yang katanya daerah Cekungan Air Tanah tersebut sejatinya sudah di keroyok pabrik semen sejak lama. Disitu sudah mangrak beberapa pabrik semen dari berbagai perusahaan semen.

Sejak 2014 - 2016, PT Semen Indonesia yang notabene perusahaan plat merah tersebut sudah merencanakan membangun pabrik di kawasan pegunungan kapur tersebut, namun hal tersebut tertunda karena masyarakat peduli kendeng yang menolak pendirian pabrik memenangkan gugatanya di Mahkamah Agung pada 5 Oktober 2016. Eh yah udah gak jadi gitu kok tiba-tiba Gubernur Jawa Tengah (Ganjar Pranowo) mengeluarkan Adendum yang mengizinkan pabrik berdiri, kan jancuk...

Oke sini Pak Ganjar dan orang-orang yang mendukung berdirinya pabrik semen, tak pisuhi sampean pada. Sampean pada bilangkan negri kita butuh semen untuk pembangunan kan ? Bahkan pak Ganjar bilang ini untuk kepentingan nasional, untuk merah putih. Alahh jancukk. 

Saya sangat setuju dengan pembangunan nasional dari sabang sampai merauke, namun jika itu merusak alam dan kehidupanya, saya akan menentang itu. 

Silahkan gusur persawahan, bangun pabrik dimana-mana, lakukan pembangunan besar-besaran. Sementara ada yang terusir dari habitatnya, terhabiskan pekerjaanyaa, lalu ketika mereka mengeluh kepada elit politik di negri ini, mereka bilang "Gak semuanya emang bisa mengikuti arus pembangunan, ini untuk kepentingan yang lebih besar". Kepentingan yang lebih besar ndasmu... Kepentingan wetengmu wae iku...

Perlu di ingat juga, warga desa yang lugu-lugu itu tidak mengerti politik, mereka selalu setia mendukung Partainya Pak Ganjar dari setiap pemilihan. Bahkan ketika Pak Ganjar sudah tidak mereka percayai, mereka masih percaya dengan partainya, mereka datangi Ibu Megawati untuk mengadukan semuanya, mereka berharap, sang Ibu-Nya wong cilik itu bisa jadi tempat curahan hati anak kepada Ibunya. Tapi sayang, mereka hanya bertemu satpam, nampaknya untuk menghadapi wong cilik, Ibu Mega lebih memilih wong cilik lainya untuk mewakili.

Saya memang bukan petani kendeng, tapi saya begitu mengerti dan merasakan rasanya di perlakukan semena-mena oleh orang-orang kota berduit.

Di desa saya, kebanyakan teman-teman saya adalah anak dari buruh tani. Mereka terpaksa pergi ke kota untuk membantu perekonomian keluarga. Orang tuanya yang buruh tani perlahan-lahan kehilangan pekerjaanya. Semakin mengecilnya area persawahan adalah penyebabnya. Orang-orang kota berduit datang, lalu membeli sedikit demi sedikit tanah pertanian untuk dijadikan tanah-tanah kapling. Petani pemilik tanahpun mau tak mau menjual tanahnya yang memang sudah sulit untuk di openi, karena mahalnya harga bibit dan pupuk. dengan menjualnya, bisa buat modal untuk membuka usaha di kota.

Bapak-bapak dan ibu-ibu elit politik dan pendukung buta pembangunan mungkin tidak pernah merasakan sedihnya harus berpindah dari daerah asal. Kalian tidak mengerti rasanya kehilangan mata pencaharian yang telah turun-temurun di wariskan. Kalian juga tidak mengerti rasanya dipisahkan dengan orang-orang yang ikatan batinya begitu kuat, semua itu karena permainan ekonomi kalian yang menggangap pembangunan adalah kemajuan, pembangunan adalah masa depan. Jancuk sekali...

Aku mungkin bukan petani kendeng, tapi jiwa ini tiada beda dengan petani kendeng
Aku mungkin bukan petani kendeng, tapi rasa ini satu dengan petani kendeng
Aku mungkin bukan petani kendeng, tapi tangis mereka adalah darahku
Aku mungkin bukan petani kendeng.... Tapi aku tidak se-bangsat kalian......

0 komentar: