Jomblo dan Ke-Kangenan-nya

http://manuaisescolares.net/40-gambar-dp-bbm-kangen-rindu-terbaru/

"Apa yang paling berbahaya dari seorang Jomblo ?"


Aku yang sering mendaku sebagai panglima jomblo diam terhenyak di beri pertanyaan seperti itu oleh seorang jomblo yang sedang meratapi kesepianya. Aku berusaha menghiburnya, bahwa menjadi jomblo itu tidaklah buruk-buruk amat, jomblo itu merdeka, kuat dan berbahaya.

Eh... Malahan dia bertanya seperti itu...

Yah tentu saja aku bingung. Aku asal ceplos aja bilang kalau jomblo itu berbahaya. Maklum, saking berapi-apinya apa aja keluar tanpa difikirkan maknanya.

"Sudahlah Ar... Akui saja, kita ini para jomblo sebenarnya kesepian, menderita dan kurang kasih sayang" Temanku yang jomblo tadi melanjutkan. Dari kata-katanya yang dalam tersebut, aku yakin dia telah melewati masa-masa berat sebagai seorang jomblo, mungkin lebih berat dari aku. Oleh karena itu aku memilih diam menundukan kepala, dan hanyut pada kenangan-kenangan mantan yang sering menganggu hari liburku.

Temanku menyalahkan rokoknya, lalu seperti bermonolog, keluar syair dari mulutnya "Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku, Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta"

Aku masih terdiam, membiarkan temanku bermonolog ria.

"Kau tak akan mengerti segala lukaku, karena luka telah sembunyikan pisaunya, membayangkan wajahmu adalah siksa" temanku semakin hanyut dalam syairnya. Aku termenung, toh syair-syair temanku tadi sejatinya memang bukan hanya dia saja yang merasakan, akupun jua. Baru kali ini aku tak bergairah mempromosikan status kejombloan kepada temanku ini yang tingkat kejombloanya aku rasa lebih tinggi dari diriku.

Sebelum melanjutkan syairnya, temanku menyeruput kopi hitam yang sejatinya sudah dingin, lalu seperti mantra, syair itu kembali terucap "Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan, engkau telah menjadi racun dalam darahku"

Aku mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku. Aku takut temanku ini menjadi gila, bahkan gilanya melebihi aku. Namun aku bangga juga, ternyata rasa sakitnya telah membawa dia pada tahap kemarifatan tertinggi seorang jomblo.

"apabila aku dalam kangen dan sepi, itulah berarti, aku tungku tanpa api" Temanku mengakhiri syairnya dengan hisapan terakhir rokok di jarinya.

Tunggu sebentar, setelah aku telaah ko aku enggak asing yah sama syair-syair itu, berasa pernah denger gitu. Ehh jancukk itu puisinya WS Rendra yang judulnya kangen. Halahh daritadi aku terpesona sama temanku ini, ternyata dia hanya membacakan puisi WS Rendra, kuprettt.

Namun dari situ aku jadi punya senjata untuk menyerang balik dirinya.

"Hmmm kangen" Begitu ujarku. Temanku tak begitu kaget aku dapat menebak puisi yang dari tadi ia lantunkan. Tatapanya masih kosong, lalu kembali membakar batangan rokok Garpit yang katanya "rokok kuli"

"Kekuatan seorang jomblo adalah ke-kangenan-nya" Begitu lanjutku dengan wajah yang aku buat seserius mungkin.

Temanku menoleh padaku "Maksudmu Ar ?"

Aku diam sebentar, mencoba menarik perhatianya. Lalu menyemburkan asap rokok ke wajahnya bak seorang dukun menyemburkan air keramat ke pasienya.

"Jika aku tidak salah duga, kau sedang rindu sesuatu, sedang kangen. mungkin bukan pada mantan, bukan pada kenangan atau mungkin kau tidak tau sedang ngangenin apa, tapi kangen itu terasa begitu kuat bukan ?" Aku mencoba menebak apa yang sedang temanku rasakan ini, tujuanku agar ia semakin terbawa dalam obrolan yang sedang aku bawakan ini, dan membuktikan padanya bahwa menjadi jomblo itu suatu kebangaan.

Dia hanya terdiam, lalu menjawab dengan wajah dipalingkan jauh dari diriku "Kutau kau paham apa yang ku rasakan Ar, kau telah mengalami apa yang aku alami. Tapi justru aku tak paham mengapa kau terus membanggakan kejombloan yang menyakitkan ini ?"

Aku tersenyum, lalu coba menjelaskan pelan-pelan "Begini teman, sejak kapan kau bisa begitu hafal dengan puisi kangenya WS Rendra ? bahkan kau membawakanya dengan baik ? Pasti sesuatu hal besar terjadi padamu, sesuatu itu di sebut kangen"

"Percayalah teman, akan ada hal-hal hebat lagi setelah ini. Rasa kangen ini akan memancarkan hal-hal positif pada dirimu" Aku mulai berceramah sambil menunggu tanggapan dari temanku itu.

Temanku masih terdiam, namun akhirnya ia protes juga "Kangen ini memang kekuatan hebat, dari rasa kangen ini memang menghasilkan hal-hal positif. Namun apakah kangen harus menjomblo ? tidak juga kan ?"

"Kangen memang bisa dirasakan siapa saja, baik yang menjomblo ataupun tidak. Namun kangenya jomblo itu lebih berkualitas" Aku menjelaskan mantap

"Maksudnya berkualitas ?" Temanku nampaknya makin penasaran

"Ketika mereka yang berpacaran sedang kangen pacar, maka obatnya bertemu. Sedangkan jomblo ? para jomblo tidak mencari obatnya, yah masa mau ketemu mantan gitu ? yah akhirnya jomblo jadilah pencipta obat untuk diri sendiri" Aku kembali menjelaskan

Temanku ternyata masih bertanya "Lah jomblo bikin obat apa emang ?"

"Yah seperti tadi kamu berpuisi, tanpa kangen seorang jomblo kau belum tentu bisa berpuisi seperti tadi. selain berpuisi tentu saja banyak hal lain yang dihasilkan para jomblo berkat rasa kangenya" Aku kembali menjelaskan

Kami berduapun diam cukup lama, masing-masing menghisap rokok kesukaanya. Lalu aku kembali berkata sebagai penutup ceramahku "Mulai sekarang berbanggalah menjadi jomblo dengan semangat ke-kangenan-nya. sebaik-baik kangen, kangenya jomblo. Sebaik-baik merindu, tidak bertemu. Maka pasanglah photo mantan di kamarmu, jika bisa photonya dengan pacar barunya. Agar rindumu makin membara, dan berkualitaslah rindumu"

Kawanku diam, hanya mengucap satu patah kata "JANCUK....."

0 komentar: