Menolak (disebut) Liberal

https://en.wikipedia.org/wiki/Liberal_Party_of_Canada

Ada suatu cap abstrak dan sering salah sasaran ketika terjadi debat kusir tentang keislaman, yakni cap Wahabi dan cap Liberal.

Pernah melihat debat kusir antara pendukung HTI dan anti HTI. Lalu di sela-sela debat yang anti HTI marah-marah sambil mengucap "Dasar Wahabi". Padahal HTI dan Wahabi itu suatu hal yang berbeda.

Di sisi lainya juga sama, para penngecap "Liberal"pun sering salah sasaran.

Mungkin di beri cap Wahabi sih aku pernah mengalami. Namun paling sering justru di cap liberal. Terkadang aku bertanya kepada yang Ngecap aku liberal "Liberal itu apaan ?". Bukan aku mengetest atau melakukan pertanyaan jebakan kepada si Pengecap tadi. Jujur saja, aku tidak mengerti apa itu liberal ? dan harus seperti apa disebut liberal ?

Namun kebanyakan orang yang ngecap saya liberalpun nyatanya tidak paham arti liberal. Pokoknya kalau yang pakai logika yah liberal, gitu kata mereka.

Mungkin aku yang berasal dari keluarga NU inilah alasan aku disebut liberal. Hal itu dikarenakan beberapa orang NU memang mengakui diri sebagai orang islam liberal, dengan di dirikanya JIL. Namun nyatanya enggak semua orang NU setuju sama JIL dan enggak semua yang tertuduh liberal setuju sama JIL juga.

Jika yang disebut liberal itu orang yang berlogika kebablasan, sesungguhnya cap-cap "liberal" itu sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu.

Seperti kita tau tentang Ibnu Sina, Al farabi serta para pemikir Islam lainya pada zaman Bani Abassiyahpun seringkali dicap sebagai pengguna logika kebablasan. Hingga akhirnya muncul Al-Ghozali sebagai penentang "Islam Liberal" dengan buku Tahafut Al-Falasifah.

Namun anehnya atau mungkin lucunya, mereka yang sekarang suka memberi cap liberal justru sering membanggakan Al-Farabi, Ibnu Sina, serta Al-Kawarizmi sebagai bagian dari kejayaan Islam di masa lalu.

Padahal di era Abasiyah itu, para filsuf seperti Ibnu Sina adalah salah satu kaum yang paling dimusuhi oleh penganut Islam puritan selain kaum Sufi.

Hal inilah yang terjadi hingga saat ini, para Islam puritan yang mengagungkan kemurnian kerapkali menyebut para ulama-ulama yang nyufi Seperti Cak Nun dan Gus Mus adalah liberal.

Namun saya setuju saja jika ulama Sufi disebut liberal. Karena menurut Prof. Kuntowijoyo Islam yang liberal itu yang sesuai dengan Al-Imron ayat 110. Yakni yang tanhauna 'anil munkar (Mengajak meninggalkan yang mungkar). Maka saya setuju, karena inti dari sufisme tersendiri adalah cinta dan setiap cinta adalah meninggalkan yang mungkar.

Namun saya tetap tidak terima jika saya disebut liberal, boro-boro mengajak meninggalkan yang mungkar, wong saya pelaku utama kemungkaran.....



Terinspirasi dari tulisan Mas Iqbal Aji Daryono

0 komentar: