Gagal

http://www.sepositif.com/2016/12/berkali-kali-gagal-5-hal-ini-mungkin-bakal-kamu-rasakan.html

Hpku bergetar, aku lihat ada pesan WhatsApp dari seorang temanku.

"Ar.. dirumah gak lu ?"

Aku diam sejenak, coba memikirkan apa tujuan sebenarnya temanku ini. Bukan berfikir soudzon atau takut temanku pinjam uang. Namun beberapa bulan ini temanku tadi tidak terdengar keberadanyaa, kabarnya sih doi lagi fokus dengan sesuatu, sehingga tidak ingin terganggu fokusnya.

"Masih di kantor, sebentar lagi pulang" Aku yang sedang beberes membalas singkat.

Tak lama, temanku membalas "Gue maen ke kosan lu yah"

"Oke bro, kabarin aja, ini gue baru mau balik ke kosan" Aku langsung menggeber motorku, cepat-cepat menuju kosanku, jangan sampai temanku tiba di kosan sebelum aku datang.



***


"Oalah Jok, Jok... Bawa makanan banyak amat, kaya mau jengukin orang sakit aja" Joko yang baru tiba 15 menit setelah aku tiba di kosan, ternyata si Joko membawa banyak makanan, mungkin maksudnya buat kletikan teman ngobrol, maklum, aku cuma bisa ngasih air minum, kalau ada teman datang, itupun air mineral, anak kos broo..

Aku mulai menyalahkan rokok, temanku yang namanya Joko itu membuka beberapa makanan. Kamipun terlibat obrolan ringan kesana kemari, dari aku yang selalu menggerutu tentang mantan hingga membicarakan selentingan-selentingan liar yang beredar.

"Jadi sekarang lu lagi ada sesuatu ama Gina?" Joko mulai melakukan pertanyaan yang memang sudah jadi selentingan-selentingan diantara kami.

Memang, beberapa hari ini aku sedang dekat dengan Gina, namun sejatinya tidak ada hubungan spesial antara aku dan Gina.

"Gak ada apa-apa gue hanjerr, hanya isuu, hahaha" Aku menjawab sambil tertawa.

SI Jokopun ikut tertawa "Hahahaha iyah jugasih, si Gina enggak bakalan mau ama orang kaya lu juga hahaha".

"Oh iyah, denger-denger lu tes masuk STAN (Sekolah Tinggi Akutansi Negara), udah tahap 2, gimana kelanjutanya ?" Kini giliranku bertanya tentang selentingan-selentingan yang aku dengar.

Namun tiba-tiba si Joko terdiam, raut wajahnya berubah, terlihat kini wajahnya lebih menunduk dari biasanya. Aku jadi merasa tak enak hati, bingung, entah harus bersikap seperti apa dalam kekikukan seperti ini.

"Gue gagal Ar, enggak lolos" Ucap Joko lirih

Kini justru aku yang tertunduk lesu, aku merasa melontarkan pertanyaan yang salah. Kemudian hening.

Joko kembali mendongakan kepalanya, aku lihat ada sesuatu yang mengganjal di sela-sela matanya. Berikutnya, mulutnya mulai bergumam "Gagal Ar, gue gagal, semua yang udah gue rencanain dari satu tahun lalu..."

Aku masih terdiam, aku tau, apapun yang aku katakan takan membantu sedikitpun beban yang temanku rasakan. Aku tidak berada diposisinya, bahkan tidak pernah berada disisinya.

"Bayangin, satu tahun gue udah korbanin banyak hal, korbanin waktu, korbanin... ahh" Kini suara Joko kali ini sedikit bergetar.

Aku hisap rokoku dalam-dalam, benar-benar aku hayati hisapan kali ini. Aku kumpulkan keberanian, lalu aku mulai bicara "Jok, aku memang tidak merasakan apa yang kau rasakan, tapi aku juga pernah gagal, sama sepertimu".

"Sudah Ar, tak usah dibahas" Joko nampaknya tak ingin melanjutkan pembicaraan.

Aku yang sudah terlanjur kepancing emosi justru melanjutkan obrolan "Aku tau rasanya gagal, ketika kita sudah merencanakan semuanya, kita sudah mengira-ngira seperti apa, ternyata perkiraan kita salah total. Ibarat kata kita sedang membangun gedung, lalu tiba-tiba ada gempa dan gedung itu tidak hanya hilang, tapi berantakan"

"Aku mengerti, setiap orang pasti pernah gagal, gagalnyapun berbeda-beda dan dalam kondisi yang berbeda, tapi tau gak lu Jok, meski berbeda, namu ada persamaanya" Aku kini melakukan pertanyaan retorika kepada Joko

Joko kini serius mendengarkanku, mulai bertanya "Jadi apa persamaanya ?"

"Sama-sama melalui proses" Jawabku mantap

Joko masih bingung "Maksudnya Ar ?"

Aku kembali menghisap rokoku yang tinggal setengah ini, kemudian melanjutkan "Gagal hanya dapat terjadi ketika kita sudah berusaha, saat kita sedang berusaha itulah disebut proses, dalam proses kita melewati banyak hal. Dan percayalah, hal-hal itu yang nantinya bakal membantu kita berjalan untuk proses selanjutnya"

"Tapi sakit Ar" Joko berkilah

"Sakit memang, pusing memang, itu udah ketentuan hidup. Namun untuk mengambil pelajaran dari kegagalan itu ketentuan kita. Kita mau gagal dengan membawa tangis dan bekal masa depan atau gagal dengan membawa tangis dan luka ?" Aku mulai berceramah, sedangkan Joko hanya terdiam.

"Mungkin ucapanlu ada benarnya juga, meski gak bisa merubah gagalnya gue sih" Joko masih menyimpan kecewa rasanya, aku tidak dapat berbuat banyak.

Kemudian kami terdiam dalam pikiranya masing-masing, setelah hisapan terakhir aku berketa "Tapi aku pikir-pikir, gagal itu enggak ada. Gagal cuma cara kita memberi nama pada kehendak Tuhan yang bukan kehendak kita...."

Halahh.... itukan quotesnya Sudjiwo Tedjo.... Dasar Plagiat...

0 komentar: