Ngaji Sorogan : Mengaji Sambil Bermain

http://www.pontrenalmusyarrofah.com/2015/11/belajar-mengaji-dengan-sisten-sorogan.html?m=1

Meski bengal-bengal begini, dulu aku pernah sekolah keagamaan loh, namanya sekolah TPQ atau kepanjangan dari Taman Pendidikan Qur'an.

Di sekolah TPQ tersebut kurang lebih aku bersekolah selama 6 tahun. Cukup lama dibanding beberapa temanku yang lain.

Semakin lama sekolah TPQ, bukan suatu kebanggan untuk anak-anak di kampungku. Karena sistem sekolah TPQ itu semakin cepat menguasai pelajaran yang diberikan oleh para guru, maka semakin cepat kita lulus. Jadi taulah kualitas ngaji saya bagaiamana kan yah ?

Di TPQ tersebut, kami biasa menggunakan metode Ngaji Sorogan. 

Ngaji Sorogan itu ngaji yang muridnya ngantri untuk mendapat giliran membaca kitab, lalu setelah giliranya, si murid akan membaca kitab sambil di koreksi oleh seorang Mursyid atau guru.

Hampir semuanya metode yang digunakan di TPQ tempat aku belajar menggunakan metode sorogan. Dari ngaji Alif Ba Ta, Hafal-hafalanTajwid, wirid, tahlil, doa pendek, Juz Amma, hingga tentu saja baca Al-Qur'an semua dilakukan dengan sorogan.

Yah namanya juga Taman Pendidikan Qur'an, layaknya taman-taman lainya, di tempat ini kita juga bebas bermain kesana-kemari.

Alih-alih mengantri untuk menunggu giliran mengaji, para santri justru asik bermain di bagian belakang kelas yang memang entah sengaja atau tidak, di setiap kelas selalu di sisahkan ruang kosong yang cukup luas.

Sebenarnya, sebelum masuk kelaspun, kami sudah asik bermain di halaman sekolah. Dari ngobrol-ngobrol ringan, maen gamebot tarikan sampai nyicipin semua jajanan yang ada di TPQ, kami lakukan sambil menunggu guru datang.

Guru-guru kami memang agak njelei soal kedatangan. Bukan hanya sering terlambat datang, bahkan kami beberapa kali harus mendatangi rumahnya untuk menjemput beliau-beliau ini.

Tapi aku juga dapat memaklumi, pasalnya guru-guru kami sama seperti orang di desa lainya, punya pekerjaan lain, kadang ke sawah, yang jadi orang pemerintahan di balai desa juga kadang ada rapat-rapat pejabat, ada juga yang masih sibuk dengan kuliahnya. Namun hal tersebut tidak membuat mereka mengeluh untuk mengajar kami ngaji, yang tentu saja dengan metode sorogan.

Selain di sekolah TPQ, aku dan anak di desaku juga biasanya melanjutkan untuk mengaji di rumah Pak Kyai yang letaknya juga tidak jauh dengan tempat aku bersekolah di TPQ.

Di rumah Pak Kyai ini, kami hanya difokuskan untuk membaca Al-Qur'an yang lagi-lagi metode belajarnya menggunakan metode ngaji sorogan.

Selain metode yang sama, guru-guru yang mengajar di rumah Pak Kyai ini juga kebanyakan adalah guru-guru yang mengajar aku di TPQ.

Sama seperti di TPQ, aku di tempat ngaji ini juga lebih banyak bermainya. Datang sehabis ashar, kami biasanya bermain bola, memanjat pohon kresem, atau kebut-kebutan di jalan dengan sepeda masing-masing.

Baru ba'da maghrib kami berkumpul berbaris satu persatu untuk menunggu giliran ngaji

Semua itu aku dan teman-temanku lakukan setiap hari tanpa henti, kecuali malam Jumat dan hari Jumat kami libur. 

Dari ngaji sorogan itulah kami warga desa dari yang tidak mengerti apapun tentang huruf hijaiyah, menjadi bisa membaca Al-Qur'an.

Bukan hanya itu, proses yang dilakukan setiap hari, bermain, belajar, bertemu orang yang sama, guru yang sama, membuat persaudaraan kita benar-benar sudah seperti saudara sendiri. Teman-teman sudah seperti laiknya kakak beradik, guru-guru sudah seperti orang tua sendiri, bahkan jika di luar jam ngaji, guru-guru, orang tua murid dan muridnya tetap bermasyarakat seperti biasa, tidak kaku seperti guru-murid pada umumnya.

Dan ketika fullday school di agendakan pemerintah dan di dukung oleh Ormas Muhammadiyah, aku kok jadi merasa mereka ingin mematikan pendidikan karakter yang sudah tercipta di masyarakat Indonesia dengan pendidikan karakter ala barat yang hanya fokus pada akademik ?

Sudahlah, cukup Jakarta saja yang menjadi kota mati, mati karakternya, mati nuraninya....

0 komentar: