Hanya Sebuah Bendera, Benarkah ?

https://musyafucino.wordpress.com/2011/03/28/benarkah-bendera-indonesia-adalah-bendera-rasulullah/

Event olahraga terbesar se-Asia Tenggara yang digelar dua tahunan baru saja dibuka. Kali ini Malaysia di daulat sebagai tuan rumah penyelenggara acara yang dinamakan Sea Games itu

Dibalik kemeriahan pembukaan Sea Games di negerinya Siti Nurhalizah itu, terdapat suatu hal yang membuat heboh, khususnya untuk warga negara Indonesia.

Pasalnya, dalam buku panduan yang dibagikan oleh penyelenggara, terdapat gambar bendera Indonesia yang terbalik, yakni menjadi putih-merah, bukanya merah putih.

Kontan saja, warganet Indonesia yang terkenal militan bak Jihadis langsung saja bergerilya kesegala jenis media sosial mengecam pihak penyelenggara yang dinilai melakukan kesengajaan untuk melecehkan Bangsa Indonesia di bulan sakral, bulan kemerdekaan Indonesia.

Namun, dibalik derasnya kecaman yang disuarakan oleh jihadis warganet itu, tirdapat suara-suara minor yang tidak kalah pesatnya akan kasus ini.

Mereka-mereka yang juga warga negara Indonesia ini, menganggap hal-hal tentang atribut-atribut seperti ini tidak perlu dibela mati-matian, toh itu hanya sebuah bendera, katanya.

Bagi mereka, ada hal-hal yang lebih penting untuk dibahas, mereka lebih khawatir tentang kebangkitan PKI, pembangunan Meikarta dan hal-hal sejenisnya itu.

Oke, aku setuju memang ada hal-hal lain yang sifatnya harus segera diselesaikan, tentang kesenjangan sosial yang tidak kunjung usai, terciptanya demokrasi semu karena permainan elit politik, serta setan korupsi yang terus menghantui negri.

Namun perlu diketahui, menurutku memikirkan hal-hal diatas tanpa memikirkan simbol-simbol serta kehormatan negara justru membuat kita terperangkap dalam egoisme dan rasa apatis terhadap sesama warga negara.

Bendera merah putih yang telah lama digunakan oleh kerajaan Majapahit, Aceh dan Raja Sisingamangaraja hingga Diponogoro ini bagiku bukan hanya sebuah bendera, didalamnyalah terdapat semacam panji martabat, lambang persatuan dan penangkis egoisme pribadi.

Aku jadi ingat tentang Ja'far bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah, panglima perang kedua setelah Zaid bin Haritsah saat perang mut'ah melawan kekaisaran romawi.

Panglima perang yang konon secara fisik sangat mirip dengan rasulullah tersebut mengkomandoi pasukanya dengan memegang bendera kesatuan kaum muslimin di tangan kanan. Setelah tangan kananya ditebas oleh musuh, beliau memegangnya dengan tangan kirinya, setelah tangan kirinya juga terkena tebasan,beliau tetap mempertahankan benderanya agar tidak jatuh ke tanah. Dengan berusaha terus memeluk bendera tersebut, akhirnya sang panglima gugur dan digantikan Abdullah bin Rawahah yang memegang komando serta panji-panji bendera tadi.

Atas hal itu, diriwayatkan, Allah mengganti kedua lengan sepupu rasul tersebut dengan sayap. Hingga Rasulullah memberinya gelar Ja'far At-Thayyar atau Ja;far yang bisa terbang.

Ada banyak lagi cerita-cerita heroik tentang bendera ini. Dari kisah di hotel Yamato yang fenomenal itu hingga kisah Bung Karno yang mati-matian melindungi bendera pusaka saat situasi sedang genting di tahun 1965.

Memang, bendera hanya sebuah kain berwarna. Namun hakikatnya itu jauh daripada itu. Bendera adalah simbol-simbol yang perlu dihormati sedemikian rupa, dan berawal dari rasa menghormati itulah kita bisa tulus membangun negri, tanpa berkabut kepentingan pribadi.

0 komentar: