Wanita, Berjuang tak Sebercanda Itu




Tadi malam, tanteku menggerutu terhadap bekas pacar anaknya (sepupuku) yang bajiluk sangat.

Pasalnya, sepupuku itu putus dengan sang wanita dengan sangat tragis dan mengenaskan.

Waktu itu sepupuku yang sebut saja bernama Akbar merasa ada yang berbeda dengan pacarnya si Jubaedah (singkatanya bukan JUrusan BAnci DAeraH yah). Pasalnya, Jubaedah yang tempat tinggalnya berjarak sekitar 1 jam lebih dari rumah si Akbar sudah jarang menghubungi si Akbar.

Akbar sebenarnya berniat untuk kerumah pacarnya itu, namun untuk memastikan Jubaedah ada dirumah, maka Akbar menelponya terlebih dahulu. Namun tidak disangka yang mengangkat justru suara laki-laki.

"Ini siapa yah ?" Tanya lelaki disana dengan nada tegas berwibawa

Akbar yang kaget berusaha untuk tenang lalu mulai berkata "Mau ngomong sama Jubaedah ada ?"

"Ada ini..." Handphonepun sudah berpindah tangan ke tangan Jubaedah.

"Kamu kemana aja ? beberapa hari ini tumben enggak minta jemput aku nganter kuliah ? terus tadi yang ngangkat siapa ?" Cecar Akbar dengan cepat.

"Oh itu tadi pacarku" Jawab Jubaedah singkat

Tanpa pikir panjang, berbagai makian keluar langsung dari mulut Akbar. Entah karena lelah atau apa, Handphone kini kembali ketangan cowok barunya Jubaedah. Dan yang tejadi justru keributan antara Akbar dan cowo barunya Jubaedah yang belakangan ngaku-ngaku sebagai seorang angkatan.

Aku tau betul perjuangan Akbar untuk mendapatkan Jubaedah. Dari perjalanan ngapel yang melewati jalur-jalur kemacetan Jakarta, dari Jakarta utara ke Jakarta selatan. Antar jemput jubaedah kuliah, padahal Akbar sendiri tak bisa kuliah, hingga harus bernyanyi lewat telephone untuk meninabobokan Jubaedah ketika hendak tidur.

Selain Akbar, aku punya sepupu lagi, sebut saja namanya Galon. Galon atau si Gagal moveon ini kisahnya tak kalah tragis dengan si Akbar.

Setelah putus beberapa lama, si Galon ini masih saja memikirkan bayang-bayang mantanya itu. Dan naasnya, mantanya kerapkali masih saja menghubungi dengan kata-kata manis dan sesekali mengajaknya bertemu.

Sebagai lelaki yang masih menaruh harap dengan mantanya itu. Tentu saja kata-kata manis dan ajakan jalan sang mantan adalah anugerah besar baginya.

Namun ternyata sang mantan itu sudah punya pacar baru, hal itu diketahui melalui media sosial miliknya yang selalu update photo lelaki barunya.

Dan bajiluknya si Galon tetap saja meladeni sang mantan yang jelas-jelas tidak akan kembali, ujarnya padaku "Usaha dulu man, hasil tidak pernah menghianati usaha". Jancuk tenan...

Dan hingga sekarang sudah hampir satu tahun, Galon dan mantanya masih seperti itu....

Adalagi tentang kerabatku yang sudah menikah dan sudah punya anak. Suatu hari dia melihat istrinya berselingkuh, tidak satu kali, namun berulang-ulang kali.

Namun apa yang dilakukan kerabatku itu ? Dia hanya mendiamkan saja...

Saat aku tanya kenapa ia tidak memarahi istrinya, jawabanya sungguh bikin aku terperanga.

"Selingkuhanya lebih kaya dari gue man, gue bisa apa ? dia pantas mendapatkan lelaki yang lebih bisa menafkahinya" Begitu jawabnya.

Edannn betul pikirku... Padahal aku tau betul kerabatku itu untuk menfkahi anak istrinya mau berjuang jumpalikan kaya apa, dari jadi kernet, pelayan warteg hingga pekerjaan-pekerjaan apapun rasanya hampir pernah ia lakukan.

Ada juga kejadian seseorang yang gagal menikahi pacarnya yang telah dipacari selama empat tahun, hanya gara-gara si cewe tidak pernah melihat si cowok memiliki modal yang cukup.

Padahal selama 4 tahun itu, si cowok menabung untuk mempersunting si cewek suatu saat lagi. Namun ia tidak pernah menceritakan pada si cewe, menurutnya suatu saat jika sudah waktunya dia akan datang ke orang tua si cewe, lalu membuat acara pernikahan yang paling berkesan.

Namun nasi sudah menjadi bubur, si cewe sudah memutuskan untuk berpisah. Jadilah uang itu hanya abis untuk foya-foya menghilangkan stres akibat diputusin secara sepihak.

Aku sendiri mungkin agak sedikit beruntung, empat kali pacaran, 2 kali ditinggal akibat lelaki lain, 1 kali ditinggal tanpa alasan dan 1 kali ditinggal dengan alasan klasik.

Dengan rekor seperti itu, yahh tidak buruk-buruk amatlah dibanding rekan-rekanku yang aku ceritakan di atas.

Tapi begini loh, aku melihatnya kok wanita selalu memandang dari kacamata yang retak, tidak utuh. Hanya memandang prianya dari sudut yang mereka mau. Padahal dibalik sudut pandang mereka, tersimpan perjuangan yang tidak mudah bagi si lelaki.

Bahkan tak jarang lelaki haru menangis menghadapi wanitanya. Bagi seorang lelaki, menangis adalah suatu aib yang begitu besar, maka jika lelaki sudah menangis, berarti sudah banyak beban yang ia pikul selama ini.

Ingatlah wanita, berjuang tidak sebercanda yang kalian pikirkan...

Tabik...

0 komentar: