Ingin Tapi tak Ingin



Sudah lama kiranya aku tidak menulis di portal ini lagi, bukan karena kesibukan atau apapun itu yang kaitanya dengan waktu, hanya tentang keinginan saja yang telah memudar, rasanya akhir-akhir ini memang aku sedang tak ingin menulis, ehh sebenarnya ingin sih, eh gimana yah ?

Di penghujung bulan November ini aku sebenaranya ingin sekali berbagi cerita dengan kalian-kalian semua tentang banyak hal, tapi kok ada rasa malas yang membuat keinginan itu menjadi ke-tidak ingin-an.

Jadi begini loh pemirsa, sungguh berat-berat banget ini aku mau nulis, sudah bebebrapa kata sudah aku hapus, aku tulis lagi, hapus lagi, aahgg entahlah. Ini kok malah jadi muter-muter. Suer ini kaya baru pertama ngeblog aja.

Entah berawal darimana, perasaan ingin dan tidak ingin itu muncul di bulan ini, November. Bulan yang setiap tahun terjadi gontok-gontokan debat kusir tentang PKI-PKIan itu.

Awal bulan, keuangan kacau berat, gaji ludes tanpa ampun untuk keperluan yang memang cukup mendesak. Aku masih mencoba tenang, mengandalkan kalimat Sudjiwo Tedjo "takut tidak bisa makan, itu menghina Tuhan", Aku mencoba berpikir jernih.

Memang benar, Tuhan tetap mengayomi-ku, tentu saja dengan teman-teman yang rela menghutangi gajinya atau sekedar menemani ngobrol agar aku lupa dari rasa lapar.

Atas hal itu aku berusaha nyari pemasukan tambahan. Banyak sih orang-orang yang nawarin aku buat jadi reseller, tapi masalahnya aku juga ingin tapi tak ingin. Hal itu disebabkan semua produk yang ditawarkan padaku adalah produk yang di jual secara online. Sedangkan aku punya prinsip, medsosku harus bersih dari jualan, karena di medsos itulah tempat aku mengeluarkan segala pemikiranku yang muda, progresif dan halahh mbuhlah.

Tapi akhirnya aku menerima salah satu permintaan, namun aku tidak bersedia menjadi reseller, aku hanya membantu menawarkan produknya. Alasan aku mau juga bukan karena kebutuhan akan uang tadi, tapi dikarenakan ideologi pula, pasalnya yang dijual adalah Kopi. Yah kopi (dan juga rokok dan buku) adalah hal yang aku ingin perkenalkan pada khalayak bahwa kopi (dan juga rokok dan buku) memiliki kenikmatan tersendiri.

Oke lupakan soal kopi, jualan kopi premium di negri yang masih belum bisa membedakan Komunis dan Atheis itu sia-sia, kalau bukan OKB, paling orang sok nyeni dan terhasut film filosofi kopi yang beli.

Berikutnya adalah tentang kemarahan. Jujur saja, aku hampir saja melupakan cara untuk marah. Bukan aku sok-sokan, tapi aku selalu melihat segala sesuatu itu sebagai bagian dari jalan Tuhan. Yah jadi ngapain kita marah kalau itu sudah kehendak Tuhan ?

Namun tidak dengan bulan ini, Bulan dimana hujan sudah kembali mengguyur Jakarta. 

Aku yang biasanya kena cipratan air genangan malah tertawa terbahak-bahak, di bulan ini aku di klakson dari belakang aja langsung aku pisuhi "Sabar Ngentod"

Aku yang biasanya menggangap semuanya sudah takdir Tuhan, tiba-tiba seringkali kesel dan marah dengan kelakuan-kelakuan makhluk Tuhan, dari di jalan, di medsos atau bahkan liat charger enggak rapi saja, aku banting.

Sebenarnya aku ingin kembali ke masa sebelumnya sewaktu aku lupa cara marah karena semua udah takdir Tuhan. Namun yah tadi keinginan itu menjadi tak ingin, karena aku pikir, jamgan-jangan kemarahanku ini sudah skenario Tuhan ?

Tapi aku mikir juga sih, apa ini gara-gara aku sudah jarang "bermesraan dengan Tuhan" ?

Oke lanjut lagi.....

Bulan ini sebenarnya ada beberapa lomba menulis, dari menulis essay, puisi hingga cerpen. Untuk kategori terakhir, bolehlah aku cukup lemah, namun dua kategori awal aku rasa itu bukan hal yang sulit. Hal itu membuatku ingin mengikuti salah satu dari lomba tersebut.

"Keinginan akan tetap menjadi keinginan jika tidak diteruskan dengan aksi" begitu kata orang. Namun bagiku, "Keinginan akan menjadi ketidak inginan jika tidak diteruskan dengan aksi dan malah ditumpuk membebani kepala". Yah lagi-lagi ingin itu menjadi tidak ingin dan akhirnya lombanya selesai tanpa ada aku didalamnya.

Yah pokoknya bulan ini sepertinya Tuhan sedang bercanda kepadaku. Aku yang terlalu woles, dibuat kelimpungan dengan rasa Ingin Tapi tak Ingin.

Sudahlah, tulisan kali ini memang tak ada pelajaran yang bisa diambil, ini aku tulis agar memenuhi hasrat Ingin-ku agar tidak menjadi Tidak Ingin.

Lagian ngalap pelajaran itu dari sekolah, pengajian, atau sowan ke rumah kyai. Bukanya baca tulisanku atau stalkin akun mantan.... unfaedah bangetdah...

0 komentar: