Benci Membenci, Emangnya Situ Siapa ?

https://twitter.com/guabenciteman


Sebagai seorang perokok dan juga seorang yang memiliki banyak mantan -meski tak sebanyak tengkulak mantan si Zaeni dan Playboy Melankolis si Phale- sudah sering sekali aku di benci oleh orang-orang sekitar, dari yang mengenal baik siapa aku sampai orang yang enggak kenal enggak apa tiba-tiba benci aja gitu. Kan coeg.

Siapa sih di dunia ini yang suka dibenci ? tentu rasanya hampir tidak ada bukan ?

Sebagai orang yang selaw, rasanya aku sudah terlalu dipusingkan dengan berbagai kebencian yang melanda lingkaran pertemanan saya baik di dunia nyata maupun dunia digital.

Dimana-mana serba semua salah Jokowi, semua salah Ahok, semua salah Anies, semua salah Prabowo. Pokoknya setiap hal yang kita benci itu patut menanggung kesalahan yang ada di dunia ini.

Benci itu mematikan nalar, seperti seorang yang membenci perokok hanya karena terbawa arus perang perdagangan nikotin antara perusahaan farmasi dengan perusahaan rokok. Benci rokok serampangan membencinya, pokoknya ada berita bahaya rokok walaupun itu hoax atau tidak ilmiahpun tetap saja di like, share, lalu masuk surga... halahh

Dan akhir-akhir ini kita juga digembar-gemborkan untuk membenci micin. Banyak orang menjadi paranoid dengan micin, masak tidak menggunakan micin, takut jadi bego katanya. Padahal takut bego lalu masak tidak menggunakan micin adalah tindakan yang bego juga.

Wong namanya micin sebagai penyedap masakan itu kita perlu itu, itu tidak bermasalah asalkan tidak berlebihan. Bahkan kandungan dalam micin sebenarnya dibutuhkan oleh kita.

Ada lagi yang benci Nasi, katanya nasi mengandung gula tinggi, akibatnya tidak makan nasi dan justru kekurangan zat gula. Yah benar nasi mengandung gula tinggi, tapikan emang tubuh kita butuh gula bukan ? makan saja nasi tidak masalah, kecuali memang kamu terkena penyakit gula. Aku yah kalau lagi batuk juga enggak merokok kok.

Seperti yang dituliskan Phutut EA kemarin di Mojok.co. Bahwa segala isu untuk membenci ini dan itu akan menumbangkan beberapa korperat dan menaikan korperat lainya. Jadi semua isu-isu itu jika kita perhatikan, muaranya adalah perang ekonomi.

Begitu juga dalam hal benci membenci politikus. Tak selamanya politikus yang menjabat di pemerintahan itu menguntungkan rakyat dalam kenijakanya, pun tak selamanya juga merugikan rakyat. Jadi berhentilah benci membenci politikus itu. Kalau oke yah kita dukung, kalau enggak oke yah kita kritisi, jangan cuma pejabatnya kurus atau pejabatnya pakai sepatu kets kita kritisi habis-habisan dan secara tidak langsung, kita menjadi boneka perdagangan global.

Lagipula diluar itu, sebenarnya dengan tidak membenci apapun dan siapapun, kita justru hidup lebih woles, lebih selaw dan dapat menjaga nalar, setidaknya menjaga nalar untuk belajar dari banyak hal agar tidak mudah berprasangka buruk. 

Tapi akupun sejatinya masih suka membenci sih, entah kenapa aku benci kepada orang yang suka membenci.. Huhh Paradoks bukan ? halhhh

0 komentar: