Pintar Perlu, Akhlak Harus



Saya punya beberapa teman yang sebenarnya enggak cerdas-cerdas amat bahkan terkesan bodoh untuk banyak hal. Tapi untuk urusan akhlak, mereka jauh di atas saya.

Akhlak disini maksud saya seperti bisa membawa diri di berbagai lingkungan, menyesuaikan diri dengan berbagai macam jenis manusia dan hal-hal yang sangat berguna dalam bermasyarakat.

Menurut saya, kemampuan sesorang memelihara akhlak yang baik di zaman ini sudah hampir mencapai titik langkah.

Banyak orang berlomba-lomba untuk paling cerdas, sekolah mahal-mahal sampai luar negeri, namun gagal dalam penerapanya di masyarakat adalah efek dari gagalnya masyarakat menjaga akhlak.

Dalam Islam sendiri, kanjeng Rasul sesungguhnya datang bukan untuk kemenangan umat Islam, bukan untuk membawa umat manusia ke surga, tetapi sebagai penyempurna akhlak manusia.

Bagi yang pernah mondok atau belajar di pesantren, mereka (para santri) sebelum belajar ilmu fiqih, nahwu, shorof hingga balaghoh dan ilmu lainya yang ada di pesantren, terlebih dahulu para santri harus melahap kitab Akhlakul lilbanin dan Ta'lim Muta'alim.

Loh kok aku bisa tau ? kan aku enggak pernah mondok ? Dapet info darimana ? Ngarang kali ?

Yee darimana lagi kalau bukan dari santri masa kini si Gus Zaeni yang mantanya banyak ituloh.

Isi kitab itu aku juga sebenarnya belum khatam juga, tapi aku lihat secara garis besarnya itu mengatur kita bagaimana berperilaku, adab, sopan-santun, intinya yang gitu-gitulah.

Lah kok aku tau lagi isi kitabnya ? ngarang lagi ini ? atau kata si tengkulak mantan lagi ?

Yaelah bro, jaman begini kitab-kitab begitu juga udah ada versi digitalnya keuleess... coba googling....

Oke lanjut...

Dari situ, kita tau sebenarnya pelajaran di dalam pesantren, dasarnya itu akhlak, adab.

Jadi, yang namanya santri itu. Diajarkan menjadi orang baik terlebih dahulu. Baru diajarkan menjadi orang pintar, Tapi bukan berarti santri tidak boleh pintar bukan ? Pintar perlu, tapi akhlak dan adab itu suatu keharusan.

Hal ini diperlukan ketika santri sudah terjun ke masyarakat. Santri tidak hanya memberitahu benar atau salah, Haram atau halal atau hal-hal perkara Bid'ah atau Sunnah. Tetapi santri juga melihat kondisi masyarakat yang dihadapi, melihat kultur yang ada di masyarakat.

Agama (apapun) bagiku isinya itu tentang ajaran kebaikan. Jadi akan enggak lucu jika diajarkan dengan mata melotot, marah-marah hingga mencap sesat sana-sini.

Yah aku paham, kadang orang-orang pintar memang mengatakan yang benar, ada dalilnya -Shoheh pula-. Namun kebenaran tersebut akan terlihat mengerikan, serem dan akan dipandang Tuhan itu menakutkan.

Tuhan memang maha penghukum, maha meminta pertanggungjawaban. Tapi bukankah Tuhan maha penyayang, maha pengasih, dan masih banyak sifat Tuhan yang membawakan keteduhan. Kalau kita bisa menjelaskan sifat-sifat baik Tuhan dengan akhlak yang baik, perlakuan yang mengayomi kan masyarakat juga bisa menerima kita dan apa yang akan kita sampaikan sedikit demi sedikit akan mereka ikuti.

Tapi emang dasarnya orang pintar itu pengenya instan. Merasa lebih tau, sehingga apa yang di fatwakanya wajib diikuti, jika tidak yah sesat.

Memang menjadi orang baik itu tidak se-superior orang pintar. Menjadi orang baik itu, walaupun pintar, tetap tidak akan dipandang, kepintaranya tak terlihat karena sifatnya yang begitu lembut.

Sedangkan menjadi orang pintar itu enak. Apa yang diucap dianggap kebenaran, tidak ada kompromi akan hal itu.

Tapi perlu di ingat, golongan orang-orang baik itu fokusnya itu membangun peradaban, bukan menciptakan orng-orang pintar. Karena dalam peradaban yang baik, akan tercipta orang-orang pintar. Sedangkan banyaknya orang pintar tidak dapat menjamin bisa membangun peradaban yang baik.

Tulisan ini bukan untuk menyindir siapapun, tapi ini refleksi untuk diri.

Pasalnya beberapa hari yang lalu aku sempat berbeda pandangan tentang rokok dengan beberapa guruku. Aku menggunakan dalil yang valid untuk mendukung argumenku, aku gunakan logika yang joss pokoknya untuk berargumen.

Beberapa orang menganggap aku dipihak yang benar, dengan argumen yang runtut. Tapi setelah aku pikir, secara adab itu bukanlah hal yang baik, apalagi diskusi perbedaan pandangan itu dialkukan di ranah ruang publik. 

Bagaimanapun, berdiskusi dengan guru atau bahkan orang yang lebih tua (walaupun bukan siapa-siapa) di ranah publik itu bukan adab yang baik, Sebagai yang muda, kita harus tau unggah-ungguh yang baik dalam menyampaikan pendapat kepada orang yang lebih tua. Karena hal itulah yang dibutuhkan saat ini, bukan kebenaran. Tapi kebenaran yang disampaikan dengan benar. Itu....

Eh nyadur tulisan tanpa izin salah gak sih ? hihihi


Tulisan ini beberapa saduran dari tulis Gus Khadafi Ahmad
Support dari Gus Zaeni
Dan tentu saja pengalam pribadi

0 komentar: